KEBUDAYAAN SUKU SUNDA
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang memiliki keanekaragaman di dalam berbagai aspek kehidupan. Bukti nyata adanya kemajemukan di dalam masyarakat kita terlihat dalam beragamnya kebudayaan di Indonesia. Tidak dapat kita pungkiri bahwa kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, karsa manusia yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia.
Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak memiliki kebudayaan. Begitu pula sebaliknya tidak akan ada kebudayaan tanpa adanya masyarakat. Ini berarti begitu besar kaitan antara kebudayaan dengan masyarakat.
Melihat realita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural maka akan terlihat pula adanya berbagai suku bangsa di Indonesia. Tiap suku bangsa inilah yang kemudian mempunyai ciri kahas kebudayaan yang berbeda- beda. Suku Sunda merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Jawa. Sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia, suku Sunda memiliki kharakteristik yang membedakannya dengan suku lain. Keunikan kharakteristik suku Sunda ini tercermin dari kebudayaan yang mereka miliki baik dari segi agama, mata pencaharian, kesenian dan lain sebagainya.
Suku Sunda dengan sekelumit kebudayaannya merupakan salah satu hal yang menarik untuk dipelajari dalam bidang kajian mata kuliah Pluralitas dan Integritas Nasional yang pada akhirnya akan menjadi bekal ilmu pengetahuan bagi kita.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Untuk memudahkan dalam pembahasan masalah maka penulis membatasi pada
2. Seperti apakah kebudayaan suku Sunda ?
3. Bagaimana masalah sosial yang ada dalam masyarakat Sunda ?
4. Bagaimana sistem interaksi dalam masyarakat Sunda ?
5. Bagaimana stratifikasi masyarakat Sunda ?
C. TUJUAN MAKALAH
1. Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :
2. Mengetahui kebudayaan suku Sunda.
3. Memahami salah satu bentuk masalah sosial yang ada dalam masyarakat Sunda.
4. Menelaah sistem interaksi dalam kehidupan keseharian suku Sunda.
5. Mengetahui akan stratifikasi suku Sunda.
PEMBAHASAN
Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, dari Ujung Kulon di ujung barat pulau Jawa hingga sekitar Brebes (mencakup wilayah administrasi propinsi Jawa Barat, Banten, sebagian DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Tengah. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Kerana letaknya yang berdekatan dengan ibu kota negara maka hampir seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia terdapat di provinsi ini. 65% penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda yang merupakan penduduk asli provinsi ini. Suku lainnya adalah Suku Jawa yang banyak dijumpai di daerah bagian utara Jawa Barat, Suku Betawi banyak mendiami daerah bagian barat yang bersempadan dengan Jakarta. Suku Minang dan Suku Batak banyak mendiami Kota-kota besar di Jawa Barat, seperti Bandung, Cimahi, Bogor, Bekasi, dan Depok. Sementara itu Orang Tionghoa banyak dijumpai hampir di seluruh daerah Jawa Barat.
A. KEBUDAYAAN SUKU SUNDA
Kebudayaan Sunda merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Kebudayaan- kebudayaan tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :
1. SISTEM KEPERCAYAAN
Hampir semua orang Sunda beragama Islam. Hanya sebagian kecil yang tidak beragama Islam, diantaranya orang-orang Baduy yang tinggal di Banten Tetapi juga ada yang beragama Katolik, Kristen, Hindu, Budha. Selatan. Praktek-praktek sinkretisme dan mistik masih dilakukan. Pada dasarnya seluruh kehidupan orang Sunda ditujukan untuk memelihara keseimbangan alam semesta.Keseimbangan magis dipertahankan dengan upacara-upacara adat, sedangkan keseimbangan sosial dipertahankan dengan kegiatan saling memberi (gotong royong). Hal yang menarik dalam kepercayaan Sunda, adalah lakon pantun Lutung Kasarung, salah satu tokoh budaya mereka, yang percaya adanya Allah yang Tunggal (Guriang Tunggal) yang menitiskan sebagian kecil diriNya ke dalam dunia untuk memelihara kehidupan manusia (titisan Allah ini disebut Dewata). Ini mungkin bisa menjadi jembatan untuk mengkomunikasikan Kabar Baik kepada mereka.
2. MATA PENCAHARIAN
Suku Sunda umumnya hidup bercocok tanam. Kebanyakan tidak suka merantau atauhidup berpisah dengan orang-orang sekerabatnya. Kebutuhan orang Sunda terutama adalah hal meningkatkan taraf hidup. Menurut data dari Bappenas (kliping Desember 1993) di Jawa Barat terdapat 75% desa miskin. Secara umum kemiskinan di Jawa Barat disebabkan oleh kelangkaan sumber daya manusia. Maka yang dibutuhkan adalah pengembangan sumber daya manusia yang berupa pendidikan, pembinaan, dll.
3. KESENIAN
KIRAB HELARAN
Kirap helaran atau yang disebut sisingaan adalah suatu jenis kesenian tradisional atau seni pertunjukan rakyat yang dilakukan dengan arak-arakan dalam bentuk helaran. Pertunjukannya biasa ditampilkan pada acara khitanan atau acara-acara khusus seperti ; menyambut tamu, hiburan peresmian, kegiatan HUT Kemerdekaan RI dan kegiatan hari-hari besar lainnya. Seperti yang diikuti ratusan orang dari perwakilan seluruh kelurahan di Cimahi, yang berupa arak-arakan yang pernah digelar pada saat Hari Jadi ke-6 Kota Cimahi. Kirap ini yang bertolak dari Alun-alun Kota Cimahi menuju kawasan perkantoran Pemkot Cimahi, Jln. Rd. Demang Hardjakusumah itu, diikuti oleh kelompok-kelompok masyarakat yang menyajikan seni budaya Sunda, seperti sisingaan, gotong gagak, kendang rampak, calung, engrang, reog, barongsai, dan klub motor.
KARYA SASTRADi bawah ini disajikan daftar karya sastra dalam bahasa Jawa yang berasal dari daerah kebudayaan Sunda. Daftar ini tidak lengkap, apabila para pembaca mengenal karya sastra lainnya dalam bahasa Jawa namun berasal dari daerah Sunda,
1. Babad Cerbon
2. Cariosan Prabu Siliwangi
3. Carita Ratu Galuh
4. Carita Purwaka Caruban Nagari
5. Carita Waruga Guru
6. Kitab Waruga Jagat
7. Layang Syekh Gawaran
8. Pustaka Raja Purwa
9. Sajarah Banten
10. Suluk Wuyung Aya
11. Wahosan Tumpawarang
12. Wawacan Angling Darma
13. Wawacan Syekh Baginda Mardan
14. Kitab Pramayoga/jipta Sara
PENCAK SIALAT CIKALONG
Pencak silat Cikalong tumbuh dikenal dan menyebar, penduduk tempatan menyebutnya “Maempo Cikalong”. Khususnya di Jawa Barat dan diseluruh Nusantara pada umumnya, hampir seluruh perguruan pencak silat melengkapi teknik perguruannya dengan aliran ini.
Daerah Cianjur sudah sejak dahulu terkenal sebagai daerah pengembangan kebudayaan Sunda seperti; musik kecapi suling Cianjuran, klompen cianjuran, pakaian moda Cianjuran yang sampai kini dipergunakan dll.
SENI TARI
a. TARI JAIPONGAN
Tanah Sunda (Priangan) dikenal memiliki aneka budaya yang unik dan menarik, Jaipongan adalah salah satu seni budaya yang terkenal dari daerah ini. Jaipongan atau Tari Jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah moderen karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu Ketuk Tilu.Tari Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaitu Degung. Musik ini merupakan kumpulan beragam alat musik seperti Kendang, Go’ong, Saron, Kacapi, dsb. Degung bisa diibaratkan ‘Orkestra’ dalam musik Eropa/Amerika. Ciri khas dari Tari Jaipong ini adalah musiknya yang menghentak, dimana alat musik kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai tarian yang menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan.
b. TARI MERAK
c. TARI TOPENG
SENI MUSIK DAN SUARA
Selain seni tari, tanah Sunda juga terkenal dengan seni suaranya. Dalam memainkan Degung biasanya ada seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada dan alunan yang khas. Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang dinamakan Sinden. Tidak sembarangan orang dapat menyanyikan lagu yang dibawakan Sinden karena nada dan ritme-nya cukup sulit untuk ditiru dan dipelajari.Dibawah ini salah salah satu musik/lagu daerah Sunda :
1. Bubuy Bulan
2. Es Lilin
3. Manuk Dadali
4. Tokecang
5. Warung Pojok
WAYANG GOLEK
Jepang boleh terkenal dengan ‘Boneka Jepangnya’, maka tanah Sunda terkenal dengan kesenian Wayang Golek-nya. Wayang Golek adalah pementasan sandiwara boneka yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh seorang sutradara merangkap pengisi suara yang disebut Dalang. Seorang Dalang memiliki keahlian dalam menirukan berbagai suara manusia. Seperti halnya Jaipong, pementasan Wayang Golek diiringi musik Degung lengkap dengan Sindennya. Wayang Golek biasanya dipentaskan pada acara hiburan, pesta pernikahan atau acara lainnya. Waktu pementasannya pun unik, yaitu pada malam hari (biasanya semalam suntuk) dimulai sekitar pukul 20.00 – 21.00 hingga pukul 04.00 pagi. Cerita yang dibawakan berkisar pada pergulatan antara kebaikan dan kejahatan (tokoh baik melawan tokoh jahat). Ceritanya banyak diilhami oleh budaya Hindu dari India, seperti Ramayana atau Perang Baratayudha. Tokoh-tokoh dalam cerita mengambil nama-nama dari tanah India.Dalam Wayang Golek, ada ‘tokoh’ yang sangat dinantikan pementasannya yaitu kelompok yang dinamakan Purnakawan, seperti Dawala dan Cepot. Tokoh-tokoh ini digemari karena mereka merupakan tokoh yang selalu memerankan peran lucu (seperti pelawak) dan sering memancing gelak tawa penonton. Seorang Dalang yang pintar akan memainkan tokoh tersebut dengan variasi yang sangat menarik.
ALAT MUSIK
1. Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).
2. Angklung adalah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung masih sebatas kepentingan kesenian local atau tradisional
3. KETUK TILU Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sakral tertentu tapi murni sebagai pertunjukan hiburan dan pergaulan. Oleh karena itu tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan.
4. SENI BANGRENG Seni Bangreng adalah pengembangan dari seni “Terbang” dan “Ronggeng”. Seni terbang itu sendiri merupakan kesenian yang menggunakan “Terbang”, yaitu semacam rebana tetapi besarnya tiga kali dari alat rebana. Dimainkan oleh lima pemain dan dua orang penabu gendang besar dan kecil.
5. RENGKONG Rengkong adalah salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Sunda. Muncul sekitar tahun 1964 di daerah Kabupaten Cianjur dan orang yang pertama kali memunculkan dan mempopulerkannya adalah H. Sopjan. Bentuk kesenian ini sudah diambil dari tata cara masyarakat sunda dahulu ketika menanam padi sampai dengan menuainya
6. KUDA RENGGONG Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannya yaitu, seekor kuda atau lebih di hias warna-warni, budak sunat dinaikkan ke atas punggung kuda tersebut, Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.
7. KECAPI SULING Kacapi Suling adalah salah satu jenis kesenian Sunda yang memadukan suara alunan Suling dengan Kacapi (kecapi), iramanya sangat merdu yang biasanya diiringi oleh mamaos (tembang) Sunda yang memerlukan cengkok/ alunan tingkat tinggi khas Sunda. Kacapi Suling berkembang pesat di daerah Cianjur dan kemudian menyebar kepenjuru Parahiangan Jawa Barat dan seluruh dunia.
4. SISTEM KEKERABATAN
Sistem keluarga dalam suku Sunda bersifat parental, garis keturunan ditarik dari pihak ayah dan ibu bersama. Dalam keluarga Sunda, ayah yang bertindak sebagai kepala keluarga. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku Sunda.Dalam suku Sunda dikenal adanya pancakaki yaitu sebagai istilah-istilah untuk menunjukkan hubungan kekerabatan. Dicontohkannya, pertama, saudara yang berhubungan langsung, ke bawah, dan vertikal. Yaitu anak, incu (cucu), buyut (piut), bao, canggahwareng atau janggawareng, udeg-udeg, kaitsiwur atau gantungsiwur. Kedua, saudara yang berhubungan tidak langsung dan horizontal seperti anak paman, bibi, atau uwak, anak saudara kakek atau nenek, anak saudara piut. Ketiga, saudara yang berhubungan tidak langsung dan langsung serta vertikal seperti keponakan anak kakak, keponakan anak adik, dan seterusnya. Dalam bahasa Sunda dikenal pula kosa kata sajarah dan sarsilah (salsilah, silsilah) yang maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna sajarah adalah susun galur/garis keturunan.
5. BAHASA
Bahasa yang digunakan oleh suku ini adalah bahasa Sunda. Bahasa Sunda adalah bahasa yang diciptakan dan digunakan sebagai alat komunikasi oleh Suku Sunda, dan sebagai alat pengembang serta pendukung kebudayaan Sunda itu sendiri. Selain itu bahasa Sunda merupakan bagian dari budaya yang memberi karakter yang khas sebagai identitas Suku Sunda yang merupakan salah satu Suku dari beberapa Suku yang ada di Indonesia.
6. ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Masalah pendidikan dan teknologi di dalam masyarakat suku Sunda sudah bisa dibilang berkembang baik.Ini terlihat dari peran dari pemerintah Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat memiliki tugas dalam memberikan pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganya, sebagai hak warga yang harus dipenuhi dalam pelayanan pemerintahan. Visi Pemerintah Jawa Barat, yakni “Dengan Iman dan Takwa Jawa Barat sebagai Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibukota Negara Tahun 2010″ merupakan kehendak, harapan, komitmen yang menjadi arah kolektif pemerintah bersama seluruh warga Jawa Barat dalam mencapai tujuan pembangunannya.
Pembangunan pendidikan merupakan salah satu bagian yang sangat vital dan fundamental untuk mendukung upaya-upaya pembangunan Jawa Barat di bidang lainnya. Pembangunan pendidikan merupakan dasar bagi pembangunan lainnya, mengingat secara hakiki upaya pembangunan pendidikan adalah membangun potensi manusia yang kelak akan menjadi pelaku pembangunan.
Dalam setiap upaya pembangunan, maka penting untuk senantiasa mempertimbangkan karakteristik dan potensi setempat. Dalam konteks ini, masyarakat Jawa Barat yang mayoritas suku Sunda memiliki potensi, budaya dan karakteristik tersendiri. Secara sosiologis-antropologis, falsafah kehidupan masyarakat Jawa Barat yang telah diakui memiliki makna mendalam adalah cageur, bageur, bener, pinter, tur singer. Dalam kaitan ini, filosofi tersebut harus dijadikan pedoman dalam mengimplementasikan setiap rencana pembangunan, termasuk di bidang pendidikan. Cageur mengandung makna sehat jasmani dan rohani. Bageur berperilaku baik, sopan santun, ramah, bertata krama. Bener yaitu jujur, amanah, penyayang dan takwa. Pinter, memiliki ilmu pengetahuan. Singer artinya kreatif dan inovatif.Sebagai sebuah upaya mewujudkan pembangunan pendidikan berfalsafahkan cageur, bageur, bener, pinter, tur singer tersebut, ditempuh pendekatan social cultural heritage approach. Melalui pendekatan ini diharapkan akan lahir peran aktif masyarakat dalam menyukseskan program pembangunan pendidikan yang digulirkan pemerintah
7. ADAT ISTIADAT
UPACARA ADAT PERKAWINAN SUKU SUNDA
Adat Sunda merupakan salah satu pilihan calon mempelai yang ingin merayakan pesta pernikahannya. Khususnya mempelai yang berasal dari Sunda. Adapun rangkaian acaranya dapat dilihat berikut ini.
1. Nendeun Omong, yaitu pembicaraan orang tua atau utusan pihak pria yang berminat mempersunting seorang gadis.
2. Lamaran. Dilaksanakan orang tua calon pengantin beserta keluarga dekat. Disertai seseorang berusia lanjut sebagai pemimpin upacara. Bawa lamareun atau sirih pinang komplit, uang, seperangkat pakaian wanita sebagai pameungkeut (pengikat). Cincin tidak mutlak harus dibawa. Jika dibawa, bisanya berupa cincing meneng, melambangkan kemantapan dan keabadian.
3. Tunangan. Dilakukan ‘patuker beubeur tameuh’, yaitu penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos kepada si gadis.
4. Seserahan (3 – 7 hari sebelum pernikahan). Calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur, makanan, dan lain-lain.
5. Ngeuyeuk seureuh (opsional, Jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka seserahan dilaksanakan sesaat sebelum akad nikah.)
* Dipimpin pengeuyeuk.
* Pengeuyek mewejang kedua calon pengantin agar meminta ijin dan doa restu kepada kedua orang tua serta memberikan nasehat melalui lambang-lambang atau benda yang disediakan berupa parawanten, pangradinan dan sebagainya.
* Diiringi lagu kidung oleh pangeuyeuk
* Disawer beras, agar hidup sejahtera.
* dikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat agar memupuk kasih sayang dan giat bekerja.
* Membuka kain putih penutup pengeuyeuk. Melambangkan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan belum ternoda.
* Membelah mayang jambe dan buah pinang (oleh calon pengantin pria). Bermakna agar keduanya saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri.
* Menumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali (oleh calon pengantin pria).
6. Membuat lungkun. Dua lembar sirih bertangkai saling dihadapkan. Digulung menjadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang hadir. Maknanya, agar kelak rejeki yang diperoleh bila berlebihan dapat dibagikan kepada saudara dan handai taulan.
7. Berebut uang di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki dan disayang keluarga.
8. Upacara Prosesi Pernikahan
* Penjemputan calon pengantin pria, oleh utusan dari pihak wanita
* Ngabageakeun, ibu calon pengantin wanita menyambut dengan pengalungan bunga melati kepada calon pengantin pria, kemudian diapit oleh kedua orang tua calon pengantin wanita untuk masuk menuju pelaminan.
* Akad nikah, petugas KUA, para saksi, pengantin pria sudah berada di tempat nikah. Kedua orang tua menjemput pengantin wanita dari kamar, lalu didudukkan di sebelah kiri pengantin pria dan dikerudungi dengan tiung panjang, yang berarti penyatuan dua insan yang masih murni. Kerudung baru dibuka saat kedua mempelai akan menandatangani surat nikah.
* Sungkeman,
* Wejangan, oleh ayah pengantin wanita atau keluarganya.
* Saweran, kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil penyaweran, pantun sawer dinyanyikan. Pantun berisi petuah utusan orang tua pengantin wanita. Kedua pengantin dipayungi payung besar diselingi taburan beras kuning atau kunyit ke atas payung.
* Meuleum harupat, pengantin wanita menyalakan harupat dengan lilin. Harupat disiram pengantin wanita dengan kendi air. Lantas harupat dipatahkan pengantin pria.
* Nincak endog, pengantin pria menginjak telur dan elekan sampai pecah. Lantas kakinya dicuci dengan air bunga dan dilap pengantin wanita.
Buka pintu. Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan
B. MASALAH SOSIAL DALAM MASYARAKAT SUKU SUNDA
Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. “Kegemilangan” kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda. Dalam perkembangannya kebudayaan Sunda kini seperti sedang kehilangan ruhnya kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas orang Sunda tampak semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan “keterbelakangan”, untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada orang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa “gengsi” ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.
Adanya kondisi yang menunjukkan lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda disebabkan karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda. Ketidakjelasan strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya “pegangan bersama” yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan Sunda. Apalagi jika kita menengok sekarang ini kebudayaan Sunda dihadapkan pada pengaruh budaya luar. Jika kita tidak pandai- pandai dalam memanajemen masuknya budaya luar maka kebudayaan Sunda ini lama kelamaan akan luntur bersama waktu.
Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai. Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki orang Sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong, ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa diterima komunitas yang lebih luas. Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis oleh orang Sunda
C. SISTEM INTERAKSI DALAM SUKU SUNDA
Jalinan hubungan antara individu- individu dalam masyarakat suku Sunda dalam kehidupan sehari- hari berjalan relatif positif. Apalagi masyarakat Sunda mempunyai sifat someah hade ka semah. Ini terbukti banyak pendatang tamu tidak pernah surut berada ke Tatar Sunda ini, termasuk yang enggan kembali ke tanah airnya. Lebih jauh lagi, banyak sekali sektor kegiatan strategis yang didominasi kaum pendatang. Ini juga sebuah fakta yang menunjukkan bahwa orang Sunda mempunyai sifat ramah dan baik hati kepada kaum pendatang dan tamu.
Diakui pula oleh etnik lainnya di negeri ini bahwa sebagian besar masyarakat Sunda memang telah menjalin hubungan yang harmonis dan bermakna dengan kaum pendatang dan mukimin. Hal ini ditandai oleh hubungan mendalam penuh empati dan persahabatan Tidaklah mengherankan bahwa persahabatan, saling pengertian, dan bahkan persaudaraan kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari antara warga Sunda dan kaum pendatang. Hubungan urang Sunda dengan kaum pendatang dari berbagai etnik dalam konteks apa pun-keseharian, pendidikan, bisnis, politik, dan sebagainya-dilakukan melalui komunikasi yang efektif. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kesalahpahaman dan konflik antarbudaya antara masyarakat Sunda dan kaum pendatang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Yang menjadi penyebab utamanya adalah komunikasi dari posisi-posisi yang terpolarisasikan, yakni ketidakmampuan untuk memercayai atau secara serius menganggap pandangan sendiri salah dan pendapat orang lain benar.
Perkenalan pribadi, pembicaraan dari hati ke hati, gaya dan ragam bahasa (termasuk logat bicara), cara bicara (paralinguistik), bahasa tubuh, ekspresi wajah, cara menyapa, cara duduk, dan aktivitas-aktivitas lain yang dilakukan akan turut memengaruhi berhasil tidaknya komunikasi antarbudaya dengan orang Sunda. Pada akhirnya, di balik kearifan, sifat ramah, dan baik hati orang Sunda, sebenarnya masih sangat kental sehingga halini menjadi penunjang di dalamterjalinnya system interaksi yang berjalan harmonis.
D. STRATIFIKASI SUKU SUNDA
Masyarakat Jawa Barat, yaitu masyarakat Sunda, mempunyai ikatan keluarga yang sangat erat. Nilai individu sangat tergantung pada penilaian masyarakat. Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan, seperti terhadap perkawinan, pekerjaan, dll., seseorang tidak dapat lepas dari keputusan yang ditentukan oleh kaum keluarganya. Dalam masyarakat yang lebih luas, misalnya dalam suatu desa, kehidupan masyarakatnya sangat banyak dikontrol oleh pamong desa. Pak Lurah dalam suatu desa merupakan “top leader” yang mengelola pemerintahan setempat, berikut perkara-perkara adat dan keagamaan. Selain pamong desa ini, masih ada golongan lain yang dapat dikatakan sebagai kelompok elite, yaitu tokoh-tokoh agama. Mereka ini turut selalu di dalam proses pengambilan keputusan-keputusan bagi kepentingan kehidupan dan perkembangan desa yang bersangkutan. Paul Hiebert dan Eugene Nida, menggambarkan struktur masyarakat yang demikian sebagai masyarakat suku atau agraris.
Perbedaan status di antara kelompok elite dengan masyarakat umum dapat terjadi berdasarkan status kedudukan, pendidikan, ekonomi, prestige sosial dan kuasa. Robert Wessing, yang telah meneliti masyarakat Jawa Barat mengatakan bahwa ada kelompok
“in group” dan “out group” dalam struktur masyarakat. Kaum memandang sesamanya sebagai “in group” sedang di luar status mereka dipandang sebagai “out group.
W.M.F. Hofsteede, dalam disertasinya Decision-making Process in Four West Java Villages (1971) juga menyimpulkan bahwa ada stratifikasi masyarakat ke dalam kelompok elite dan massa. Elite setempat terdiri dari lurah, pegawai-pegawai daerah dan pusat, guru, tokoh-tokoh politik, agama dan petani-petani kaya. Selanjutnya, petani menengah, buruh tani, serta pedagang kecil termasuk pada kelompok massa. Informal leaders, yaitu mereka yang tidak mempunyai jabatan resmi di desanya sangat berpengaruh di desa tersebut, dan diakui sebagai pemimpin kelompok khusus atau seluruh desa.
Hubungan seseorang dengan orang lain dalam lingkungan kerabat atau keluarga dalam masyarakat Sunda menempati kedudukan yang sangat penting. Hal itu bukan hanya tercermin dari adanya istilah atau sebutan bagi setiap tingkat hubungan itu yang langsung dan vertikal (bao, buyut, aki, bapa, anak, incu) maupun yang tidak langsung dan horisontal (dulur, dulur misan, besan), melainkan juga berdampak kepada masalah ketertiban dan kerukunan sosial. Bapa/indung, aki/nini, buyut, bao menempati kedudukan lebih tinggi dalam struktur hubungan kekerabatan (pancakaki) daripada anak, incu, alo, suan. Begitu pula lanceuk (kakak) lebih tinggi dari adi (adik), ua lebih tinggi dari paman/bibi. Soalnya, hubungan kekerabatan seseorang dengan orang lain akan menentukan kedudukan seseorang dalam struktur kekerabatan keluarga besarnya, menentukan bentuk hormat menghormati, harga menghargai, kerjasama, dan saling menolong di antara sesamanya, serta menentukan kemungkinan terjadi-tidaknya pernikahan di antara anggota-anggotanya guna membentuk keluarga inti baru.
Pancakaki dapat pula digunakan sebagai media pendekatan oleh seseorang untuk mengatasi kesulitan yang sedang dihadapinya. Dalam hubungan ini yang lebih tinggi derajat pancakaki-nya hendaknya dihormati oleh yang lebih rendah, melebihi dari yang sama dan lebih rendah derajat pancakaki-nya.
KESIMPULAN
Suku Sunda merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Jawa. Suku Sunda memiliki kharakteristik yang unik yang membedakannya dengan masyarakat suku lain. Kekharakteristikannya itu tercermin dari kebudayaan yang dimilikinya baik dari segi agama, bahasa, kesenian, adat istiadat, mata pencaharian, dan lain sebagainya.
Kebudayaan yang dimiliki suku Sunda ini menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang perlu tetap dijaga kelestariannya. Dengan membuat makalah suku Sunda ini diharapkan dapat lebih mengetahui lebih jauh mengenai kebudayaan suku Sunda tersebut dan dapat menambah wawasan serta pengetahuan yang pada kelanjutannya dapat bermanfaat dalam dunia kependidikan.
sumber:http://3gplus.wordpress.com
Rabu, 18 November 2009
Kosmologi Sunda Sarat Cinta Kasih
BANDUNG, KOMPAS.COM--Kosmologi Sunda adalah seni budaya Sunda yang sarat akan cinta antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan yang sifatnya berupa satu kesatuan keseimbangan emosi dan spiritual manusia yang saat ini sedang digembar-gemborkan dalam sebuah tes.
"Manusia sekarang sibuk dengan tes ESQ (Emotional Spiritual Quatation). Padahal, dari dulu budaya kita telah mengajarkan itu," kata seniman Kosmologi Sunda Karlina Adikusumah di Bandung, Kamis.
Dikatakannya, Kosmologi Sunda tersebut bisa kita lihat pada seni tari dan musik Tarawangsa yang lahir di Sumedang, Jawa Barat.
"Tarawangsa adalah seni tari dan musik yang hampir punah. Di Sumedang, kini tinggal satu kampung yang masih menjaga kelestarian Tarawangsa, yaitu di Rancakalong. Alat musiknya adalah kecapi dan rebab, tapi didesain khusus. Jadi, suaranya khas,"jelas Karlina.
Kecapi tersebut memiliki 7 senar, sedangkan rebab hanya memiliki 2 senar dan ia digesek menggunakan sebuah penggesek yang mirip penggesek biola.
Kata Karlina, tari Tarawangsa ini adalah sebuah "ruwat jagad." Artinya, tarian ini dilakukan untuk penyelamatan bumi dan bentuk ucapan syukur kepada Tuhan karena telah memberikan padi dan panen.
Karlina menerangkan, budaya-budaya Indonesia, khususnya tari Tarawangsa, sering dianggap sebagai sesuatu yang mistis. Padahal, kata dia, tari itu adalah sesuatu yang spiritual.
"Ini adalah bentuk spiritual murni. Ini membuat orang-orang berkarya tanpa logika dan bergerak dengan hati nurani. Maka, hasilnya adalah kepuasan batin, bukan kepuasan material. Karena material menghilangkan moral dan kerusakan moral menghancurkan seni," kata Karlina.
Tony, seorang perupa Kosmologi Sunda, mengatakan, "Hidup akan memberikan kita energi positif. Jika kita mengenal dan mengerti kata ’enjoy’. Itulah yang diajarkan oleh Kosmologi Sunda. Jika ’enjoy’, orang tidak akan malu untuk berkarya, orang tidak akan stres, orang akan menikmati semuanya yang diberikan alam."
Tony adalah orang yang membawa ajaran Kosmologi Sunda ke Belgia. Dikatakannya, ratusan orang di Belgia tertarik belajar seni ini. Salah satunya adalah Bernadette Van de Maele.
"Saya sangat tertarik akan budaya Indonesia. Namun, sangat sedikit referensi yang saya dapat untuk mempelajari budaya Indonesia. Tahun 2000, saya bertemu dengan Tony. Saya diajarkan Kosmologi Sunda dan saya merasakan energi spiritual itu bukan masuk ke kepala, tapi masuk ke dalam hati. Sejak itulah saya mendalam Kosmologi Sunda," ujar Bernedette.
Dikatakan, tiap satu tahun sekali, Bernadette datang ke Indonesia untuk menyosialisasikan Tarawangsa. Orang Belgia asli ini sangat bangga dengan kebudayaan Indonesia, khususnya budaya Sunda.
"Budaya Sunda mengajarkan manusia untuk selalu berhubungan baik dengan alam. Ini sangat berbeda dengan budaya Barat. Di Barat, kami yang mendominasi alam," katanya. Dalam acara Event Budaya Kosmologi Sunda yang diadakan di Universitas Pasundan (Unpas) Bandung tersebut, Bernadette merancang sebuah pintu masuk dari bambu yang dirancang sedemikian rupa.
"Filosofinya, bambu itu melambangkan alam dan kosong di tengahnya. Intinya, manusia harus mengosongkan hati dan pikirannya dari segala beban. Jadi, manusia bisa merespon sesuatu yang baru tanpa terbebani," katanya.
Event Budaya Kosmologi Sunda ini adalah hasil kerja sama antara dosen di tiap fakultas di Unpas, para mahasiswa, dan budayawan-budayawan Sunda.
Proyek ini, intinya adalah mengkomunikasikan seni budaya ke dalam seni visual. Jadi, seluruh aspek yang ada di Unpas ini bukan lagi berupa sektoral, tapi berupa satu kesatuan.
"Yang membuat kami bangga, ternyata mahasiswa sangat antusias untuk ikut serta dalam mensukseskan acara budaya ini," kata Anne Nurfarina, Dra, M.Sn, Ketua Pelaksana Budaya Kosmologi Sunda.
Sumber:www.kompas.com
"Manusia sekarang sibuk dengan tes ESQ (Emotional Spiritual Quatation). Padahal, dari dulu budaya kita telah mengajarkan itu," kata seniman Kosmologi Sunda Karlina Adikusumah di Bandung, Kamis.
Dikatakannya, Kosmologi Sunda tersebut bisa kita lihat pada seni tari dan musik Tarawangsa yang lahir di Sumedang, Jawa Barat.
"Tarawangsa adalah seni tari dan musik yang hampir punah. Di Sumedang, kini tinggal satu kampung yang masih menjaga kelestarian Tarawangsa, yaitu di Rancakalong. Alat musiknya adalah kecapi dan rebab, tapi didesain khusus. Jadi, suaranya khas,"jelas Karlina.
Kecapi tersebut memiliki 7 senar, sedangkan rebab hanya memiliki 2 senar dan ia digesek menggunakan sebuah penggesek yang mirip penggesek biola.
Kata Karlina, tari Tarawangsa ini adalah sebuah "ruwat jagad." Artinya, tarian ini dilakukan untuk penyelamatan bumi dan bentuk ucapan syukur kepada Tuhan karena telah memberikan padi dan panen.
Karlina menerangkan, budaya-budaya Indonesia, khususnya tari Tarawangsa, sering dianggap sebagai sesuatu yang mistis. Padahal, kata dia, tari itu adalah sesuatu yang spiritual.
"Ini adalah bentuk spiritual murni. Ini membuat orang-orang berkarya tanpa logika dan bergerak dengan hati nurani. Maka, hasilnya adalah kepuasan batin, bukan kepuasan material. Karena material menghilangkan moral dan kerusakan moral menghancurkan seni," kata Karlina.
Tony, seorang perupa Kosmologi Sunda, mengatakan, "Hidup akan memberikan kita energi positif. Jika kita mengenal dan mengerti kata ’enjoy’. Itulah yang diajarkan oleh Kosmologi Sunda. Jika ’enjoy’, orang tidak akan malu untuk berkarya, orang tidak akan stres, orang akan menikmati semuanya yang diberikan alam."
Tony adalah orang yang membawa ajaran Kosmologi Sunda ke Belgia. Dikatakannya, ratusan orang di Belgia tertarik belajar seni ini. Salah satunya adalah Bernadette Van de Maele.
"Saya sangat tertarik akan budaya Indonesia. Namun, sangat sedikit referensi yang saya dapat untuk mempelajari budaya Indonesia. Tahun 2000, saya bertemu dengan Tony. Saya diajarkan Kosmologi Sunda dan saya merasakan energi spiritual itu bukan masuk ke kepala, tapi masuk ke dalam hati. Sejak itulah saya mendalam Kosmologi Sunda," ujar Bernedette.
Dikatakan, tiap satu tahun sekali, Bernadette datang ke Indonesia untuk menyosialisasikan Tarawangsa. Orang Belgia asli ini sangat bangga dengan kebudayaan Indonesia, khususnya budaya Sunda.
"Budaya Sunda mengajarkan manusia untuk selalu berhubungan baik dengan alam. Ini sangat berbeda dengan budaya Barat. Di Barat, kami yang mendominasi alam," katanya. Dalam acara Event Budaya Kosmologi Sunda yang diadakan di Universitas Pasundan (Unpas) Bandung tersebut, Bernadette merancang sebuah pintu masuk dari bambu yang dirancang sedemikian rupa.
"Filosofinya, bambu itu melambangkan alam dan kosong di tengahnya. Intinya, manusia harus mengosongkan hati dan pikirannya dari segala beban. Jadi, manusia bisa merespon sesuatu yang baru tanpa terbebani," katanya.
Event Budaya Kosmologi Sunda ini adalah hasil kerja sama antara dosen di tiap fakultas di Unpas, para mahasiswa, dan budayawan-budayawan Sunda.
Proyek ini, intinya adalah mengkomunikasikan seni budaya ke dalam seni visual. Jadi, seluruh aspek yang ada di Unpas ini bukan lagi berupa sektoral, tapi berupa satu kesatuan.
"Yang membuat kami bangga, ternyata mahasiswa sangat antusias untuk ikut serta dalam mensukseskan acara budaya ini," kata Anne Nurfarina, Dra, M.Sn, Ketua Pelaksana Budaya Kosmologi Sunda.
Sumber:www.kompas.com
Selasa, 17 November 2009
LALAB DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SUNDA
Dalam budaya dan kehidupan masyarakat Sunda, lalab sudah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan sejak dahulu. Kalau dahulu lalab memiliki arti tersendiri dalam kehidupan tradisi di pedesaan, sekarang sudah merupakan bagian dari lingkungan kehidupan modern masyarakat kota. Lalab yang terdiri dari daun, pucuk, buah muda atau biji tanaman segar, sudah merupakan bagian dari program WHO “back to nature” atau makanan kaya serat, mineral dan vitamin untuk kesehatan dan kebugaran.
Lalab atau sayuran merupakan makanan berserat. Karenanya memakan lalab dan sayuran mentah akan banyak manfaatnya untuk kesehatan dan kebugaran tubuh serta kehalusan dan keindahan kulit, terutama untuk kulit muka wanita. Kalau masyarakat Barat (khususnya Eropa dan Amerika) bangga terhadap makanan segar asal tanaman yang disebut salads, maka masyarakat Indonesia juga bangga dengan “lalab” khususnya bagi kalangan masyarakat Sunda.
Obat peningkat “gairah”, tidak selamanya harus berasal dari obat hasil pabrikan yang mengandung banyak unsur kimia. Dalam hal ini kalau terus menerus dikonsumsi akan mempunyai efek samping. Obat-obatan yang berasal dari bahan-bahan alami seperti tanaman khususnya bagian dari tertentu yang berkhasiat sebagai obat dapat meningkatkan gairah.
Lalab “Tempo Doeloe”
Dari catatan lama tentang adat, kebiasaan dan tradisi orang Sunda, yang disebut lalab “tempo doeloe” umumnya berbentuk daun muda atau pucuk tanaman dari tumbuh-tumbuhan liar, baik yang ditemukan di hutan, sawah, kebun serta tempat-tempat lainnya. Jenis-jenis dari tanaman lalab tempo doeloe yang sekarang masih ada bahkan masih bisa dibeli atau didapatkan, serta jenis tanaman yang hanya tinggal kenangan merupakan masalah yang belum banyak dibicarakan. Misalnya saja antanan, gelang, gewor, godobos, jotang, jonge, sintrong dan senggang, saat ini masih bisa didapatkan di pedesaan. Walau dalam keadaan sudah langka, lalab tempo doeloe seperti bunut, jambu mede, jambu bol, koang, kosambi, kemang, kihapit, lampeni, mareme, putat dan sebagainya, kadang-kadang masih bisa ditemukan juga.
Lalab di Tempat Kondangan
Kehadiran lalab - sambal pada acara kondangan di Jawa Barat, sudah merupakan hal yang umum dan biasa. Misalnya untuk mengurangi peningkatan kadar kolesterol dalam darah yang diakibatkan makanan berlemak, dengan memakan lalab akan banyak menolong dalam menurunkan kadar lemak dalam darah. Tercatat lebih dari 10 jenis lalab yang umumnya ditemukan pada acara kondangan seperti kubis, buncis, ketimun, labu muda, paria, kacang panjang, imba (kedondong cina), daun ketela, terung, tespong dan surawung.
Lalab di Rumah Makan Sunda
Keberadaan rumah makan ke-Sunda-an ternyata bukan hanya di daerah Jawa Barat saja, tetapi sudah merambah ke daerah di luar Jawa Barat. Lalab sambal merupakan daya tarik yang khas pada rumah makan Sunda disamping pepes ikan, cobek ikan, ikan bakar dan sebagainya. Rasanya makanan kurang nikmat kalau didalam menunya tidak terhidang lalab dengan sambalnya. Beberapa jenis lalab yang sudah biasa dihidangkan adalah daun ketela pohon, jaat, jengkol, leunca, petai, seladah air, serawung, terung dan tespong.
Lalab dan Penyakit Masa Kini
Tanaman sejak pucuk, daun, bunga, buah, batang dan umbi mengandung zat gizi yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh. Beberapa lalab yang berkhasiat untuk pencegahan dan penyakit adalah sebagai berikut:
1. Kencing manis/diabetes mellitus: bisa diobati dengan 3 jenis makanan/lalab, yaitu koneng gede, temulawak, jengkol dan petai.
2. Penyakit Maag: bisa diobati dengan kunyit (kunir atau koneng), caranya adalah dengan memarut kunyit, tambahkan air matang, disaring tambahkan sebutir kuning telur, dan diminum setiap hari setelah sarapan pagi.
3. Obat lemah syahwat dan awet muda: Dengan mencampur 5 buah kembang sirih kering ditambah sedikit merica dan ragi kue, digerus hingga hancur menjadi tepung.
4. Obat peningkat “gairah”: Kalau rutin memakan biji wijen, biji waluh/labu besar, ginseng, dikeringkan dan dibuat serbuk serta diseduh air akan bisa meningkatkan gairah.
5. Bau mulut dan badan: Dengan sering makan lalab daun beluntas atau meminum rebusan daun sirih.
Sumber : www.sundanet.com
Lalab atau sayuran merupakan makanan berserat. Karenanya memakan lalab dan sayuran mentah akan banyak manfaatnya untuk kesehatan dan kebugaran tubuh serta kehalusan dan keindahan kulit, terutama untuk kulit muka wanita. Kalau masyarakat Barat (khususnya Eropa dan Amerika) bangga terhadap makanan segar asal tanaman yang disebut salads, maka masyarakat Indonesia juga bangga dengan “lalab” khususnya bagi kalangan masyarakat Sunda.
Obat peningkat “gairah”, tidak selamanya harus berasal dari obat hasil pabrikan yang mengandung banyak unsur kimia. Dalam hal ini kalau terus menerus dikonsumsi akan mempunyai efek samping. Obat-obatan yang berasal dari bahan-bahan alami seperti tanaman khususnya bagian dari tertentu yang berkhasiat sebagai obat dapat meningkatkan gairah.
Lalab “Tempo Doeloe”
Dari catatan lama tentang adat, kebiasaan dan tradisi orang Sunda, yang disebut lalab “tempo doeloe” umumnya berbentuk daun muda atau pucuk tanaman dari tumbuh-tumbuhan liar, baik yang ditemukan di hutan, sawah, kebun serta tempat-tempat lainnya. Jenis-jenis dari tanaman lalab tempo doeloe yang sekarang masih ada bahkan masih bisa dibeli atau didapatkan, serta jenis tanaman yang hanya tinggal kenangan merupakan masalah yang belum banyak dibicarakan. Misalnya saja antanan, gelang, gewor, godobos, jotang, jonge, sintrong dan senggang, saat ini masih bisa didapatkan di pedesaan. Walau dalam keadaan sudah langka, lalab tempo doeloe seperti bunut, jambu mede, jambu bol, koang, kosambi, kemang, kihapit, lampeni, mareme, putat dan sebagainya, kadang-kadang masih bisa ditemukan juga.
Lalab di Tempat Kondangan
Kehadiran lalab - sambal pada acara kondangan di Jawa Barat, sudah merupakan hal yang umum dan biasa. Misalnya untuk mengurangi peningkatan kadar kolesterol dalam darah yang diakibatkan makanan berlemak, dengan memakan lalab akan banyak menolong dalam menurunkan kadar lemak dalam darah. Tercatat lebih dari 10 jenis lalab yang umumnya ditemukan pada acara kondangan seperti kubis, buncis, ketimun, labu muda, paria, kacang panjang, imba (kedondong cina), daun ketela, terung, tespong dan surawung.
Lalab di Rumah Makan Sunda
Keberadaan rumah makan ke-Sunda-an ternyata bukan hanya di daerah Jawa Barat saja, tetapi sudah merambah ke daerah di luar Jawa Barat. Lalab sambal merupakan daya tarik yang khas pada rumah makan Sunda disamping pepes ikan, cobek ikan, ikan bakar dan sebagainya. Rasanya makanan kurang nikmat kalau didalam menunya tidak terhidang lalab dengan sambalnya. Beberapa jenis lalab yang sudah biasa dihidangkan adalah daun ketela pohon, jaat, jengkol, leunca, petai, seladah air, serawung, terung dan tespong.
Lalab dan Penyakit Masa Kini
Tanaman sejak pucuk, daun, bunga, buah, batang dan umbi mengandung zat gizi yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh. Beberapa lalab yang berkhasiat untuk pencegahan dan penyakit adalah sebagai berikut:
1. Kencing manis/diabetes mellitus: bisa diobati dengan 3 jenis makanan/lalab, yaitu koneng gede, temulawak, jengkol dan petai.
2. Penyakit Maag: bisa diobati dengan kunyit (kunir atau koneng), caranya adalah dengan memarut kunyit, tambahkan air matang, disaring tambahkan sebutir kuning telur, dan diminum setiap hari setelah sarapan pagi.
3. Obat lemah syahwat dan awet muda: Dengan mencampur 5 buah kembang sirih kering ditambah sedikit merica dan ragi kue, digerus hingga hancur menjadi tepung.
4. Obat peningkat “gairah”: Kalau rutin memakan biji wijen, biji waluh/labu besar, ginseng, dikeringkan dan dibuat serbuk serta diseduh air akan bisa meningkatkan gairah.
5. Bau mulut dan badan: Dengan sering makan lalab daun beluntas atau meminum rebusan daun sirih.
Sumber : www.sundanet.com
ARSITEKTUR IMAH SUNDA
BUBUKA
Upama urang miang ka Bali, Toraja, Minangkabau, Batak atawa Irian, kalawan gampang urang bisa ningal imah atawa wangunan anu has daerahna. Malah hal ieu jadi ciri mandiri (trade mark) pikeun daerahna masing-masing. Bangsa asing nu datang ka Indonesia, kacida katajina ku rupa-rupana arsitektur imah nu aya di Indonesia.
Naha ari Tatar Sunda mibanda arsitektur imah?
Tangtu aya jeung miboga wangun imah anu ngabogaan ciri khas Tatar Sunda, saupamana wae ti mimiti imah anu pangsaderhanana tepi ka anu cukup rumit nyieunna. Conto wangunan moderen anu dasar arsitekturna ngagunakeun arsitektur Sunda pangpangna wangun suhunanana, di antarana suhunan Kampus ITB jeun sabagian suhunan Gedong Sate. Wangunan Pendopo Kabupaten Bandung jeung sababaraha Wangunan Pendopo anu aya di Tatar Sunda mah ilaharna ngagunakeun suhunan anu ngajadi ciri Wangunan Arsitektur Imah Sunda.
SAWATARA TEMPAT ANU MASIH KENEH AYA IMAH ARSITEKTUR SUNDA
Upama dipapay leuwih jauh conto arsitektur nu asli Sunda tur dina wangunan nu masih keneh saderhana, nya eta wangunan imah di:
- Baduy (Banten Kidul)
- Kampung Naga (Tasikmalaya)
- Kampung Pulo (Garut)
- Kampung Genereh (Sumedang)
- Kampung Palasah (Majalengka)
- Kampung Gabus (Cirebon)
Di Baduy, Kampung Naga jeung Kampung Pulo, beunang disebutkeun wangunan imah-imahna masih keneh asli tradisional. Tapi di Kampung Genereh, Palasah jeung Gabus mah, ngan kari hiji-dua bae, kitu oge kaayanana geus loba anu ruksakna.
CIRI-CIRI JEUNG FUNGSI ARSITEKTUR IMAH SUNDA TRADISIONAL
Nurutkeun panalungtikan tim ahli anu dijejeran ku Prof. Dr. Kusnaka Adimiharja, Spk, gawe bareng jeung Kanwil Pariwisata Propinsi Jawa Barat, ciri-ciri jeung fungsi imah Sunda teh bisa disawang tina:
- Aspek Sosial Budaya jeung Arsitektur
- Ciri Wangunan anu Has
Kateranganana upama dipedar leuwih jelas mah kieu:
Aspek Sosial Budaya jeung Arsitektur
Keur urang Sunda, imah teh lain ngan ukur pikeun tempat cicing, atawa tempat istirahat wungkul, tapi oge boga harti anu leuwih lega, nyakup sosial, ekonomis jeung jadi puseur atikan budaya kaasup pendidikan moral, sarta dianggap suci (sakral). Nya di jero imah pisan tumuwuhna hubungan sosial (sosialisasi) anggota kulawarga. Di imah pisan tempat migawe hal-hal nu sipatna ekonomis (home industri). Di imah pisan hal-hal nu tumali jeung atikan kabudayaan ku indung-bapa diajarkeunana ka anak-anakna. Kitu deui imah teh dianggap suci (sakral), disaruakeun jeung alam mikro (bumi sok disebut imah), nu dianggap miniaturna tina makro (dunya = anu oge disebut bumi). Jadi bumi (imah) teh dianggap sarua jeung bumi (dunya).
Eta sababna upama hiji imah dipake hal-hal nu teu hade atawa dipake hal-hal anu kotor, bakal dianggap ngaruksak kasakralan imah, imahna jadi “sial”. Ceuk urang Sunda mah imah teh mangrupa tempat anu suci nu kudu dijaga kasucianana.
Ciri Wangunan anu Has
Ciri has imah Sunda nyaeta panggung (aya kolongna). Bedana jeung imah panggung seler bangsa sejen (Batak, Dayak, Minangkabau), nyaeta luhurna kolong imah Sunda mah henteu pati luhur (40-60cm), siga kolong imah urang Jepang. Upama aya imah di Tatar Sunda anu lain panggung, tapi ngupuk saperti di daerah Tatar Kaler eta mah pangaruh Budaya Jawa. Hateupna (suhunan) imah di Tatar Sunda rupa-rupa aya Julang Ngapak, Jogo Anjing, Heuay Badak, Jure Limasan jeung Leang-Leang. Di antara nu disebutan bieu anu has Sunda mah nyaeta nu disebut suhunan Julang Ngapak (Sulah Nyanda, Julang Wirangga), ari nu sejenna mah kapangaruhan ku kabudayaan batur (suhunan Leang-Leang kapangaruhan ku Arsitektur Cina, Limasan pangaruh Jawa).
Ciri sejenna nya eta ayana capit hurang (cagak gunting), nyaeta babagian tungtung hateup (suhunan) anu dirupakeun cagak atawa bisa oge saperti tanduk munding, malah aya anu dibuleudkeun (lingkaran), biasana tina kai, atawa awi anu dibulen ku injuk. Gunana cagak gunting diantarana pikeun nyegah cai hujan bocor ka jero imah, jadi saperti fungsina talang. Jaba ti eta cagak gunting teh dianggap oge ngandung tanaga gaib pikeun nyegah pangaruh negatip.
Ari wangun (bentuk) imah, biasana pasagi panjang. Latena make palupuh awi, bilikna tina awi dianyam atawa ku sasag. Rangkay imah dijieunna tina kai. Make tatapakan tina batu. Rohangan imah dibagi nurutkeun babagian anu husus. Nyaeta bagian hareup tepas (emper) pikeun ngumpulna semah lalaki. Enggon (kamar sare) jeung bagean dapur (hawu jeung padaringan gudang tempat neundeun beas = pabeasan), bagean tukang ieu mah pikeun awewe. Pangpangna padaringan (goah, pabeasan) kacida dilarangna lalaki asup ka daerah eta.
PANUTUP
Konsep Arsitektur imah Sunda nu mibanda konsep dasar nu filosofis, kacida hadena upama bisa ditransformasikeun kana arsitektur imah nu moderen, nu luyu jeung kapribadian bangsa. Tangtu bae kudu diluyukeun jeung kamajuan teknologi bari henteu lesot tina pandangan hirup jeung filsafah kabudayaan Sunda. Saenyana henteu ngan dina arsitektur bae ayana falsafah Sunda teh tapi oge dina aspek-aspek budaya sejenna, upamana bae dina seni Cianjuran, Tari, Penca, Tata Boga (kadaharan), Tata Busana, jeung dina rupa rupa seni budaya sejenna. Urang sarerea, pangpangna para nonoman kudu leukeun neangan pribadi falsafah karuhun urang, sangkan bisa katransformasikeun dina kahirupan moderen. Muga bae pareng kawujudkeun.
Sumber : http://www.sundanet.com
Upama urang miang ka Bali, Toraja, Minangkabau, Batak atawa Irian, kalawan gampang urang bisa ningal imah atawa wangunan anu has daerahna. Malah hal ieu jadi ciri mandiri (trade mark) pikeun daerahna masing-masing. Bangsa asing nu datang ka Indonesia, kacida katajina ku rupa-rupana arsitektur imah nu aya di Indonesia.
Naha ari Tatar Sunda mibanda arsitektur imah?
Tangtu aya jeung miboga wangun imah anu ngabogaan ciri khas Tatar Sunda, saupamana wae ti mimiti imah anu pangsaderhanana tepi ka anu cukup rumit nyieunna. Conto wangunan moderen anu dasar arsitekturna ngagunakeun arsitektur Sunda pangpangna wangun suhunanana, di antarana suhunan Kampus ITB jeun sabagian suhunan Gedong Sate. Wangunan Pendopo Kabupaten Bandung jeung sababaraha Wangunan Pendopo anu aya di Tatar Sunda mah ilaharna ngagunakeun suhunan anu ngajadi ciri Wangunan Arsitektur Imah Sunda.
SAWATARA TEMPAT ANU MASIH KENEH AYA IMAH ARSITEKTUR SUNDA
Upama dipapay leuwih jauh conto arsitektur nu asli Sunda tur dina wangunan nu masih keneh saderhana, nya eta wangunan imah di:
- Baduy (Banten Kidul)
- Kampung Naga (Tasikmalaya)
- Kampung Pulo (Garut)
- Kampung Genereh (Sumedang)
- Kampung Palasah (Majalengka)
- Kampung Gabus (Cirebon)
Di Baduy, Kampung Naga jeung Kampung Pulo, beunang disebutkeun wangunan imah-imahna masih keneh asli tradisional. Tapi di Kampung Genereh, Palasah jeung Gabus mah, ngan kari hiji-dua bae, kitu oge kaayanana geus loba anu ruksakna.
CIRI-CIRI JEUNG FUNGSI ARSITEKTUR IMAH SUNDA TRADISIONAL
Nurutkeun panalungtikan tim ahli anu dijejeran ku Prof. Dr. Kusnaka Adimiharja, Spk, gawe bareng jeung Kanwil Pariwisata Propinsi Jawa Barat, ciri-ciri jeung fungsi imah Sunda teh bisa disawang tina:
- Aspek Sosial Budaya jeung Arsitektur
- Ciri Wangunan anu Has
Kateranganana upama dipedar leuwih jelas mah kieu:
Aspek Sosial Budaya jeung Arsitektur
Keur urang Sunda, imah teh lain ngan ukur pikeun tempat cicing, atawa tempat istirahat wungkul, tapi oge boga harti anu leuwih lega, nyakup sosial, ekonomis jeung jadi puseur atikan budaya kaasup pendidikan moral, sarta dianggap suci (sakral). Nya di jero imah pisan tumuwuhna hubungan sosial (sosialisasi) anggota kulawarga. Di imah pisan tempat migawe hal-hal nu sipatna ekonomis (home industri). Di imah pisan hal-hal nu tumali jeung atikan kabudayaan ku indung-bapa diajarkeunana ka anak-anakna. Kitu deui imah teh dianggap suci (sakral), disaruakeun jeung alam mikro (bumi sok disebut imah), nu dianggap miniaturna tina makro (dunya = anu oge disebut bumi). Jadi bumi (imah) teh dianggap sarua jeung bumi (dunya).
Eta sababna upama hiji imah dipake hal-hal nu teu hade atawa dipake hal-hal anu kotor, bakal dianggap ngaruksak kasakralan imah, imahna jadi “sial”. Ceuk urang Sunda mah imah teh mangrupa tempat anu suci nu kudu dijaga kasucianana.
Ciri Wangunan anu Has
Ciri has imah Sunda nyaeta panggung (aya kolongna). Bedana jeung imah panggung seler bangsa sejen (Batak, Dayak, Minangkabau), nyaeta luhurna kolong imah Sunda mah henteu pati luhur (40-60cm), siga kolong imah urang Jepang. Upama aya imah di Tatar Sunda anu lain panggung, tapi ngupuk saperti di daerah Tatar Kaler eta mah pangaruh Budaya Jawa. Hateupna (suhunan) imah di Tatar Sunda rupa-rupa aya Julang Ngapak, Jogo Anjing, Heuay Badak, Jure Limasan jeung Leang-Leang. Di antara nu disebutan bieu anu has Sunda mah nyaeta nu disebut suhunan Julang Ngapak (Sulah Nyanda, Julang Wirangga), ari nu sejenna mah kapangaruhan ku kabudayaan batur (suhunan Leang-Leang kapangaruhan ku Arsitektur Cina, Limasan pangaruh Jawa).
Ciri sejenna nya eta ayana capit hurang (cagak gunting), nyaeta babagian tungtung hateup (suhunan) anu dirupakeun cagak atawa bisa oge saperti tanduk munding, malah aya anu dibuleudkeun (lingkaran), biasana tina kai, atawa awi anu dibulen ku injuk. Gunana cagak gunting diantarana pikeun nyegah cai hujan bocor ka jero imah, jadi saperti fungsina talang. Jaba ti eta cagak gunting teh dianggap oge ngandung tanaga gaib pikeun nyegah pangaruh negatip.
Ari wangun (bentuk) imah, biasana pasagi panjang. Latena make palupuh awi, bilikna tina awi dianyam atawa ku sasag. Rangkay imah dijieunna tina kai. Make tatapakan tina batu. Rohangan imah dibagi nurutkeun babagian anu husus. Nyaeta bagian hareup tepas (emper) pikeun ngumpulna semah lalaki. Enggon (kamar sare) jeung bagean dapur (hawu jeung padaringan gudang tempat neundeun beas = pabeasan), bagean tukang ieu mah pikeun awewe. Pangpangna padaringan (goah, pabeasan) kacida dilarangna lalaki asup ka daerah eta.
PANUTUP
Konsep Arsitektur imah Sunda nu mibanda konsep dasar nu filosofis, kacida hadena upama bisa ditransformasikeun kana arsitektur imah nu moderen, nu luyu jeung kapribadian bangsa. Tangtu bae kudu diluyukeun jeung kamajuan teknologi bari henteu lesot tina pandangan hirup jeung filsafah kabudayaan Sunda. Saenyana henteu ngan dina arsitektur bae ayana falsafah Sunda teh tapi oge dina aspek-aspek budaya sejenna, upamana bae dina seni Cianjuran, Tari, Penca, Tata Boga (kadaharan), Tata Busana, jeung dina rupa rupa seni budaya sejenna. Urang sarerea, pangpangna para nonoman kudu leukeun neangan pribadi falsafah karuhun urang, sangkan bisa katransformasikeun dina kahirupan moderen. Muga bae pareng kawujudkeun.
Sumber : http://www.sundanet.com
Tujuh Welas Pupuh
Kanggo nyusun rumpaka pupuh, kedah ditarekahan supados luyu sareng jiwa pupuh nu tujuh welas nya eta:
1. Asmarandana, ngagambarkeun rasa kabirahian, deudeuh asih, nyaah.
2. Balakbak, ngagambarkeun heureuy atawa banyol.
3. Dangdanggula, ngagambarkeun katengtreman, kawaasan, kaagungan, jeung
kagumnbiraan.
4. Durma, ngagambarkeun rasa ambek, gede hate, atawa sumanget.
5. Gambuh, ngagambarkeun kasedih, kasusah, atawa kanyeri.
6. Gurisa, ngagambarkeun jelema nu ngalamun atawa malaweung.
7. Juru Demung, ngagambarkeun nu bingung, susah ku pilakueun.
8. Kinanti, ngagambarkeun nu keur kesel nungguan, deudeupeun, atawa kanyaah.
9. Ladrang, ngagambarkeun nu resep banyol bari nyindiran.
10. Lambang, ngagambarkeun nu resep banyol tapi banyol nu aya pikiraneunana.
11. Magatru, ngagambarkeun nu sedih, handeueul ku kalakuan sorangan, mapatahan.
12. Maskumambang, ngagambarkeun kanalangsaan, sedih bari genes hate.
13. Mijil, ngagambarkeun kasedih tapi bari gede harepan.
14. Pangkur, ngagambarkeun rasa ambek nu kapegung, nyanghareupan tugas nu beurat.
15. Pucung, ngagambarkeun rasa ambek ka diri sorangan, atawa keuheul kulantaran
teu panuju hate.
16. Wirangrong, ngagambarkeun nu kawiwirangan, era ku polah sorangan.
17. Sinom, ngagambarkeun kagumbiraan, kadeudeuh.
1. PUPUH ASMARANDANA
(Ngagambarkeun rasa deudeuh, asih, nyaah, birahi)
PIWURUK SEPUH
Ngariung di tengah bumi,
pun biang sareng pun bapa,
jisim abdi diuk mando,
husu ngupingkeun pituah,
piwejang ti anjeunna,
pituduh laku rahayu,
piwejang sangkan waluya.
2. PUPUH BALAKBAK
(Ngagambarkeun heureuy atawa banyol)
DAYEUH BANDUNG
Dayeuh Bandung kiwari teuing ku rame-araheng,
gedong-gedong pajangkung-jangkung wangunna-alagreng,
tutumpakan-tutumpakan balawiri lalar liwat-garandeng.
3. PUPUH DANGDANGGULA
(Ngagambarkeun katengtreman, kawaasan, kaagungan, kagumbiraan)
MILANG KALA
Dinten ieu estu bingah ati,
ku jalaran panceg milang kala,
kenging kurnia ti Alloh,
rehing nambahan taun,
tepung taun umur sim abdi,
henteu weleh neneda,
ka Gusti Nu Agung,
malar umur teh mangpaat,
tebih bahla turta pinarinan rijki,
sumujud ka Pangeran.
4. PUPUH DURMA
(Ngagambarkeun rasa ambek, gede hate, sumanget)
LEMAH CAI
Nagri urang katelah Indonesia,
diriksa tur dijaring,
sumirat komarana,
berkahna Pancasila,
ageman eusining nagri,
yu sauyunan,
ngawangun lemah cai.
5. PUPUH GAMBUH
(Ngagambarkeun kasedih, kasusah, kanyeri)
KADUHUNG
Kaduhung sagede gunung,
kuring sakola teu jucung,
lalawora resep ulin,
hanjakal tara ti heula,
ayeuna kari peurihna.
6. PUPUH GURISA
(Ngagambarkeun nu ngalamun atawa malaweung)
SI KABAYAN
Si Kabayan lalamunan,
pangrasa bisa nyetiran,
motor atawana sedan,
poho keur eundeuk-eundeukan,
na dahan emplad-empladan,
gujubar kana susukan.
7. PUPUH JURU DEMUNG
(Ngagambarkeun nu bingung ku kalakuan sorangan)
ADIGUNG
Lolobana mungguh jalma,
embung hina hayang agung,
hayang hirup mukti,
tapina embung tarekah,
tinangtu mo bakal nanjung.
8. PUPUH KINANTI
(Ngagambarkeun nu nungguan, deudeupeun atawa kanyaah)
KANYAAH INDUNG
Kanyaah indung mo suwung,
lir jaladri tanpa tepi,
lir gunung tanpa tutugan,
asihna teuing ku wening,
putra teh didama-dama,
dianggo pupunden ati.
9. PUPUH LAMBANG
(Ngagambarkeun anu lohong banyol, tapi pikiraneun)
WAWANGSALAN
Dialajar wawangsalan,
saperti tatarucingan,
cik naon atuh maksudna,
teangan naon wangsalna,
gedong ngambang di sagara,
ulah kapalang diajar,
keuyeup gede di lautan,
kapitineung salawasna.
10. PUPUH LADRANG
(Ngagambarkeun anu banyol tapi bari nyindiran)
MOKAHAAN
Aya hiji anak bangkong leutik,
mokahaan,
maksudna ngelehkeun sapi,
nahan napas antukna bitu beuteungna.
11. PUPUH MAGATRU
(Ngagambarkeun nu sedih, bingung, handeueul atawa mapatahan)
KASAR - LEMES
Dupi irung lemesna teh nya pangambung,
pipi mah disebat damis,
upami buuk mah rambut,
ceuli sok disebat cepil,
kasarna angkeut mah gado.
12. PUPUH MASKUMAMBANG
(Ngagambarkeun kanalangsaan, sedih bari ngenes hate)
BUDAK JAIL
Anak manuk dikatepel budak jail,
jangjangna getihan,
rek hiber teu bisa usik,
duh manusa kaniaya.
13. PUPUH MIJIL
(Ngagambartkeun kasedih tapi gede harepan)
NUNGTUT ELMU
Najan cicing nya di tepiswiring,
kade ulah bodo,
kudu tetep nungtut elmu bae,
sabab jalma nu loba pangarti,
hirup tangtu hurip,
mulus tur rahayu.
14. PUPUH PANGKUR
(Ngagambarkeun nu gede ambek atawa nyanghareupan tugas beurat)
KA SAKOLA
Seja miang ka sakola,
rek diajar nambahan elmu pangarti,
pigeusaneun bekel hirup,
sabab mungguhing manusa,
kudu pinter beunghar ku elmu panemu,
komo jaman pangwangunan,
urang kudu singkil bakti.
15. PUPUH PUCUNG
(Ngagambarkeun nu ambek ka diri sorangan atawa keuheul kulantaran teu panuju
hate)
TATAKRAMA
Mangka inget tatakrama sopan santun,
tanda jalma iman,
nyarita jeung amis budi,
da basa mah lain barang anu mahal.
16. PUPUH WIRANGRONG
(Ngagambarkeun anu kawiwirangan, era ku polah sorangan)
SIEUN DORAKA
Kuring moal deui-deui,
gaduh panata nu awon,
ngabantah nu jadi indung,
sieun dibendon ku Gusti,
kawas Dalem Boncel tea,
doraka ti ibu-rama.
17. PUPUH SINOM
(Ngagambarkeun kagumbiraan, kadeudeuh)
TATAR SUNDA
Tatar Sunda estu endah,
lemah cai awit jadi,
sarakan asal gumelar,
amanat Ilahi Robbi,
titipan nini aki,
wajib dijaga dijungjung,
basa katut budayana,
padumukna luhung budi,
insya-Allah tatar Sunda karta harja.
Gapuraning Gusti, 1992.
Rumpaka Pupuh Asmarandana, Dangdanggula, Kinanti, Sinom Tina Buku Wulang Krama karya Drs. R.H. Hidayat Suryalaga.
Sumber : http://www.sundanet.com/
1. Asmarandana, ngagambarkeun rasa kabirahian, deudeuh asih, nyaah.
2. Balakbak, ngagambarkeun heureuy atawa banyol.
3. Dangdanggula, ngagambarkeun katengtreman, kawaasan, kaagungan, jeung
kagumnbiraan.
4. Durma, ngagambarkeun rasa ambek, gede hate, atawa sumanget.
5. Gambuh, ngagambarkeun kasedih, kasusah, atawa kanyeri.
6. Gurisa, ngagambarkeun jelema nu ngalamun atawa malaweung.
7. Juru Demung, ngagambarkeun nu bingung, susah ku pilakueun.
8. Kinanti, ngagambarkeun nu keur kesel nungguan, deudeupeun, atawa kanyaah.
9. Ladrang, ngagambarkeun nu resep banyol bari nyindiran.
10. Lambang, ngagambarkeun nu resep banyol tapi banyol nu aya pikiraneunana.
11. Magatru, ngagambarkeun nu sedih, handeueul ku kalakuan sorangan, mapatahan.
12. Maskumambang, ngagambarkeun kanalangsaan, sedih bari genes hate.
13. Mijil, ngagambarkeun kasedih tapi bari gede harepan.
14. Pangkur, ngagambarkeun rasa ambek nu kapegung, nyanghareupan tugas nu beurat.
15. Pucung, ngagambarkeun rasa ambek ka diri sorangan, atawa keuheul kulantaran
teu panuju hate.
16. Wirangrong, ngagambarkeun nu kawiwirangan, era ku polah sorangan.
17. Sinom, ngagambarkeun kagumbiraan, kadeudeuh.
1. PUPUH ASMARANDANA
(Ngagambarkeun rasa deudeuh, asih, nyaah, birahi)
PIWURUK SEPUH
Ngariung di tengah bumi,
pun biang sareng pun bapa,
jisim abdi diuk mando,
husu ngupingkeun pituah,
piwejang ti anjeunna,
pituduh laku rahayu,
piwejang sangkan waluya.
2. PUPUH BALAKBAK
(Ngagambarkeun heureuy atawa banyol)
DAYEUH BANDUNG
Dayeuh Bandung kiwari teuing ku rame-araheng,
gedong-gedong pajangkung-jangkung wangunna-alagreng,
tutumpakan-tutumpakan balawiri lalar liwat-garandeng.
3. PUPUH DANGDANGGULA
(Ngagambarkeun katengtreman, kawaasan, kaagungan, kagumbiraan)
MILANG KALA
Dinten ieu estu bingah ati,
ku jalaran panceg milang kala,
kenging kurnia ti Alloh,
rehing nambahan taun,
tepung taun umur sim abdi,
henteu weleh neneda,
ka Gusti Nu Agung,
malar umur teh mangpaat,
tebih bahla turta pinarinan rijki,
sumujud ka Pangeran.
4. PUPUH DURMA
(Ngagambarkeun rasa ambek, gede hate, sumanget)
LEMAH CAI
Nagri urang katelah Indonesia,
diriksa tur dijaring,
sumirat komarana,
berkahna Pancasila,
ageman eusining nagri,
yu sauyunan,
ngawangun lemah cai.
5. PUPUH GAMBUH
(Ngagambarkeun kasedih, kasusah, kanyeri)
KADUHUNG
Kaduhung sagede gunung,
kuring sakola teu jucung,
lalawora resep ulin,
hanjakal tara ti heula,
ayeuna kari peurihna.
6. PUPUH GURISA
(Ngagambarkeun nu ngalamun atawa malaweung)
SI KABAYAN
Si Kabayan lalamunan,
pangrasa bisa nyetiran,
motor atawana sedan,
poho keur eundeuk-eundeukan,
na dahan emplad-empladan,
gujubar kana susukan.
7. PUPUH JURU DEMUNG
(Ngagambarkeun nu bingung ku kalakuan sorangan)
ADIGUNG
Lolobana mungguh jalma,
embung hina hayang agung,
hayang hirup mukti,
tapina embung tarekah,
tinangtu mo bakal nanjung.
8. PUPUH KINANTI
(Ngagambarkeun nu nungguan, deudeupeun atawa kanyaah)
KANYAAH INDUNG
Kanyaah indung mo suwung,
lir jaladri tanpa tepi,
lir gunung tanpa tutugan,
asihna teuing ku wening,
putra teh didama-dama,
dianggo pupunden ati.
9. PUPUH LAMBANG
(Ngagambarkeun anu lohong banyol, tapi pikiraneun)
WAWANGSALAN
Dialajar wawangsalan,
saperti tatarucingan,
cik naon atuh maksudna,
teangan naon wangsalna,
gedong ngambang di sagara,
ulah kapalang diajar,
keuyeup gede di lautan,
kapitineung salawasna.
10. PUPUH LADRANG
(Ngagambarkeun anu banyol tapi bari nyindiran)
MOKAHAAN
Aya hiji anak bangkong leutik,
mokahaan,
maksudna ngelehkeun sapi,
nahan napas antukna bitu beuteungna.
11. PUPUH MAGATRU
(Ngagambarkeun nu sedih, bingung, handeueul atawa mapatahan)
KASAR - LEMES
Dupi irung lemesna teh nya pangambung,
pipi mah disebat damis,
upami buuk mah rambut,
ceuli sok disebat cepil,
kasarna angkeut mah gado.
12. PUPUH MASKUMAMBANG
(Ngagambarkeun kanalangsaan, sedih bari ngenes hate)
BUDAK JAIL
Anak manuk dikatepel budak jail,
jangjangna getihan,
rek hiber teu bisa usik,
duh manusa kaniaya.
13. PUPUH MIJIL
(Ngagambartkeun kasedih tapi gede harepan)
NUNGTUT ELMU
Najan cicing nya di tepiswiring,
kade ulah bodo,
kudu tetep nungtut elmu bae,
sabab jalma nu loba pangarti,
hirup tangtu hurip,
mulus tur rahayu.
14. PUPUH PANGKUR
(Ngagambarkeun nu gede ambek atawa nyanghareupan tugas beurat)
KA SAKOLA
Seja miang ka sakola,
rek diajar nambahan elmu pangarti,
pigeusaneun bekel hirup,
sabab mungguhing manusa,
kudu pinter beunghar ku elmu panemu,
komo jaman pangwangunan,
urang kudu singkil bakti.
15. PUPUH PUCUNG
(Ngagambarkeun nu ambek ka diri sorangan atawa keuheul kulantaran teu panuju
hate)
TATAKRAMA
Mangka inget tatakrama sopan santun,
tanda jalma iman,
nyarita jeung amis budi,
da basa mah lain barang anu mahal.
16. PUPUH WIRANGRONG
(Ngagambarkeun anu kawiwirangan, era ku polah sorangan)
SIEUN DORAKA
Kuring moal deui-deui,
gaduh panata nu awon,
ngabantah nu jadi indung,
sieun dibendon ku Gusti,
kawas Dalem Boncel tea,
doraka ti ibu-rama.
17. PUPUH SINOM
(Ngagambarkeun kagumbiraan, kadeudeuh)
TATAR SUNDA
Tatar Sunda estu endah,
lemah cai awit jadi,
sarakan asal gumelar,
amanat Ilahi Robbi,
titipan nini aki,
wajib dijaga dijungjung,
basa katut budayana,
padumukna luhung budi,
insya-Allah tatar Sunda karta harja.
Gapuraning Gusti, 1992.
Rumpaka Pupuh Asmarandana, Dangdanggula, Kinanti, Sinom Tina Buku Wulang Krama karya Drs. R.H. Hidayat Suryalaga.
Sumber : http://www.sundanet.com/
Pupuh Sunda
Asmarandana
Laras: Salendro
Watek: silih asih silih pikanyaah atawa mepelingan.
1 Pada := 7 padalisan.
Pupuh 1: Asmarandana
Eling eling mangka eling ( 8 engang – vokal i / E-ling-e-ling-
mang-ka-e-ling (jumlah 8), ling panungtung vokalna i)
rumingkang di bumi alam( 8 – a )
darma wawayangan bae ( 8 – e )
raga taya pangawasa ( 8 – a )
lamun kasasar lampah ( 7 – a )
nafsu nu matak kaduhung ( 8 – u )
badan anu katempuhan ( 8 – a )
Panambih:
Eling-eling masing eling
Di dunya urang ngumbara
Laku lampah nu utama
Asih ka papada jalma
Ucap tekad reujeung lampah
Tingkah polah sing merenah
Runtut rukun sauyunan
Hirup jucung panggih jeung kamulyaan
——————-
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan
Titimangsa: 26 Agustus 2004
Sumber:
[geocities.@]
[www.angeltowns3.@]
Balakbak
Watek: pikaseurieun.
1 pada := 3 padalisan.
Pupuh 2: Balakbak
Aya warung sisi jalan rame pisan – Citameng(15-e)
Awewena luas luis geulis pisan – ngagoreng (15-e)
Lalakina lalakina los ka pipir nyoo monyet – nyanggereng (19-e).
Panambih:
Aya warung sisi jalan
Rame pisan ku nu jajan
Tihothat nu ngaladangan
Nu jarajan sukan-sukan
————————-
Laras: Madenda
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan
Titimangsa: 26 Agustus 2004
Dangdanggula
Pupuh 3: Dangdanggula
Mega beureum surupna geus burit
Ngalanglayung panas pipikiran
Cikur jangkung jahe koneng
Naha teu palay tepung
Sim abdi mah ngabeunying leutik
Ari ras cimataan
Gedong tengah laut
Ulah kapalang nya bela
Paripaos gunting pameulahan gambir
Kacipta salamina
Panambih:
Hiji basa, hiji bangsa
Basa bangsa, Indonesia
Hiji bangsa, hiji nusa
Nusa tunggal, Nusantara
Seler-seler, suku bangsa
Di wewengkon, mana-mana
Sakasuka, sakaduka
Wujud bangsa, Indonesia
——————————-
Laras: Pelog, Sorog
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan
Titimangsa: 26 Agustus 2004
Sumber:
[www.angeltowns3.@]
Durma
Pupuh 4: Durma:
Moal ngejat sanajan ukur satapak
Geus dipasti ku jangji
Mun tacan laksana
Numpes musuh sarakah
Heunteu niat seja balik
Najan palastra
Mati di medan jurit
Panambih:
Di mamana si penjajah
Pada amarah marudah
Manan kapok anggur gawok
Najan dituyuk diragut
Nagri sadayana
Umumna ngabela
Nyempad rosa, pulitik penjajah
Tapi nu ngajajah
Teu pasrah, teu sadrah
Terus meres, ngahina ngarinah
———————
Laras: Pelog
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan
Titimangsa: 27 Agustus 2004
Sumber:
[www.angeltowns3.@]
Parantos diedit 1 kali. Editan pamungkas dina 13.10.04 08:59 ku jamparing.
Gambuh
Watek: bingung, samar polah atawa tambuh laku.
1 Pada := 5 padalisan.
Pupuh 5: Gambuh
Ngahuleng banget bingung ( 7 – u )
henteu terang ka mana ngajugjug ( 10 – u )
turug turug harita teh enggeus burit ( 12 – i )
panon poe geus rek surup ( 8 – u )
keueung sieun aya meong ( 8 – o )
Ngahuleng banget bingung
Heunteu terang kamana nya indit
Turug-turug harita teh, enggeus burit
Panonpoe geus rek surup
Keueung sieun, aya meong
Panambih:
Hulang-huleng, hulang-huleng
Ngahuleng ngaraga meneng
Hate ratug, tutunggulan
Heunteu terang, kaler-kidul
Turug-turug, turug-turug
Harita teh, enggeus burit
Panonpoe geus rek surup
Keueung sieun aya meong
———————-
Laras: Pelog
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan
Titimangsa: 27 Agustus 2004
Sumber:
[geocities.@]
[www.angeltowns3.@]
Gurisa
Kaping: 18.07.2003 13:58
Watek: pangangguran, lulucon atawa tamba kesel.
1 Pada := 8 Padalisan.
Pupuh 6: Gurisa
Hayang teuing geura beurang ( 8 – a )
geus beurang rek ka Sumedang ( 8 – a )
nagih anu boga hutang (8 – a )
mun meunang rek meuli soang ( 8 – a )
tapi najan henteu meunang ( 8 – a )
teu rek buru buru mulang ( 8 – a )
rek tuluy guguru nembang ( 8 – a )
jeung diajar nabeuh gambang ( 8 – a)
Hayang teuing geura beurang
Geus beurang rek ka Sumedang
Nagih ka nu boga hutang
Mun meunang rek meuli soang
Tapi najan henteu meunang
Mo rek buru-buru mulang
Rek terus guguru nembang
Jeung diajar nabeuh gambang
Panambih:
Hayang teuing geura beurang
Geus beurang rek ka Sumedang
Nagih ka nu boga hutang
Mun meunang rek meuli soang
Tapi najan henteu meunang
Mo rek buru-buru mulang
Rek terus guguru nembang
Jeung diajar nabeuh gambang
———————-
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 3 September 2004
Sumber:
[geocities.@]
[www.angeltowns3.@]
Parantos diedit 1 kali. Editan pamungkas dina 13.10.04 09:03 ku jamparing.
Juru Demung
Pupuh 7: Jurudemung
Mungguh nu hirup di dunya
Ku kersaning anu agung
Geus pinasti panggih
Jeung dua rupa perkara
Senang paselang jeung bingung
Panambih:
Mungguh hirup di alam dunya
Ku kersaning anu agung
Geus pinasti bakal panggih
Suka bungah jeung kasedih
Dua rupa nu tumiba
Sakabeh jalma di dunya
Senang patumbu jeung bingung
Eta geus tangtu kasorang
—————————-
Laras: Pelog Liwu
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 3 September 2004
Kinanti
Laras: Pelog/Salendro
Watekna: miharep atawa prihatin.
1 Pada := 6 Padalisan
kembang ros ku matak lucu ( 8 – u )
nya alus rupa nya seungit ( 8 – i )
henteu aya papadana ( 8 – a )
ratuning kembang sajati ( 8 – i )
papaes di patamanan ( 8 – a )
seungit manis ngadalingding ( 8 – i )
Pupuh 8: Kinanti
Budak leutik bisa ngapung
Babaku ngapungna peuting
Nguriling kakalayangan
Neangan nu amis-amis
Sarupaning bungbuahan
Naon bae nu kapanggih
Panambih:
Ari beurang ngagarantung
Pinuh dina dahan kai
Disarada patembalan
Nu kitu naon ngaranna
————————
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.com)
Titimangsa: 3 September 2004
Lambang
Watek: banyol atawa pikaseurieun.
Unggal Pada diwangun ku opat Padalisan.
Pupuh 9: Lambang
Nawu kubang sisi tegal ( 8 – a )
nyair bogo meunang kadal ( 8 – a )
atuh teu payu dijual ( 8 – a )
rek didahar da teu halal ( 8 – a )
Panambih:
Nawu kubang sisi tegal
Nyiar bogo meunang kadal
Nawu kubang sisi tegal
Nyiar bogo meunang kadal
Atuh teu payu dijual
Rek didahar da teu halal
Nawu kubang sisi tegal
Nyiar bogo meunang kadal
Meunang kadal
Atuh teu payu dijual
Rek didahar da teu halal
Da teu halal
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.com)
Titimangsa: 4 September 2004
Magatru
Pupuh 10: Magatru
Majalaya, Ciparay, Banjaran, Bandung
Kopo reujeung Cisondari, Cicalengka, Ujung Berung
Rajamandala, Cimahi
Leles, Limbangan, Tarogong
Panambih:
Sukuna pakepit tilu
Panonna opat harerang
Leumpangna semu nu lesu
Ngalengkah teu bisa gancang
————————-
Laras: Madenda
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 4 September 2004
Maskumambang
Dikintun: koryati (202.51.230.139)
Kaping: 17.02.2004 09:52
Pupuh 11 : Maskumambang
Duh manusa mana kaniaya teuing
teu aya rasrasan
abong ka mahluk nu laip
nyiksa henteu jeung aturan
Hulu abdi karaosna langkung nyeri
tulang asa bejad
tanduk mah pon kitu deui
taya raoskeuneunnana
Na dikinten abdi mo ngarasa nyeri
pedah kabisan
tapi yaktosna mah abdi
ngan bakating kumawula
Oge margi anjeun rupina ka abdi
miwarang jeung maksa
buktina disina jurit
kalawan jeung dihatean
Pileuleuyan dunya pisah sareng abdi
moal bisa panjang
abdi ningal bumi langit
rek mulang ka kalanggengan
jst.
Mijil
Pupuh 12: Mijil
Mesat ngapung putra Sang Arimbi
Jeung mega geus awor
Beuki lila beuki luhur bae
Larak-lirik ninggali ka bumi
Milari sang rai
Pangeran Bimanyu
Panambih:
Aduh Gusti nu Kawasa
Jisim abdi ageung dosa
Pangna abdi gering nangtung
Reh ka sepuh wantun nundung
———————-
Laras: Pelog
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 10 September 2004
Sumber:
[www.angeltowns3.@]
Pangkur
Watek: nafsu, lumampah atawa sadia rek perang.
Unggal Pada diwangun kutujuh Padalisan.
———-
Pupuh 13: Pangkur
Seja nyaba ngalalana ( 8 – a )
ngitung lembur ngajajah milang kori ( 12 – i )
henteu puguh nu dijugjug ( 8 – u )
balik paman sadaya ( 7 – a )
nu ti mana tiluan semu rarusuh ( 12 – u )
Lurah Begal ngawalonan ( 8 – a )
“Aing ngaran Jayapati”( 8 – i )
Panambih:
Euleuh itu budak gembul
Awak gembru bayuhyuh gawena kedul
Ukur heuay jeung nundutan
Ka sakola unggal poe kabeurangan
He barudak tong nurutan
Ka nu gembul kokomoan
Bisi kedul jeung ogoan
Awal akhir katempuhan
————————-
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 11 September 2004
Sumber:
[geocities.@]
[www.angeltowns3.@]
Pucung
Watekna piwuruk, wawaran, atawa mepelingan.
Unggal Pada diwangun ku opat Padalisan.
———
Pupuh 14: Pucung
Estu untung nu bisa mupunjung indung ( 12 – u )
jeung nyenangkeun bapa ( 6 – a )
tanda yen bagjana gede ( 8 – e )
hitup mulus kaseundeuhan ku berekah ( 12 – a )
Lutung buntung luncat kana tunggul gintung
Monyet loreng leupas
luncat kana pager dengdek
Bajing kuning jaralang belang buntutna
Panambih:
Hayu batur urang diajar sing suhud
Ulah lalawora bisi engke henteu naek
Batur seuri urang sumegruk nalangsa
————————
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 11 September 2004
Sumber:
[geocities.@]
[lssitb.f2o.org]
Parantos diedit 1 kali. Editan pamungkas dina 13.10.04 09:27 ku jamparing.
Sinom
Watekna gumbira.
Unggal Pada diwangun ku salapan Padalisan.
Contona :
Di wetan fajar balebat ( 8 – a )
panon poe arek bijil ( 8 – i )
sinarna ruhay burahay ( 8 – a )
kingkilaban beureum kuning ( 8 – i )
campur wungu saeutik ( 7 – i )
kaselapan semu biru ( 8 – u )
tanda Batara Surya ( 7 – a )
bade lumungsur ka bumi ( 8 – a )
murub mubyar langit sarwa hurung herang ( 12 – a )
Pupuh 15: Sinom
Warna-warna lauk empang
Aya nu sami jeung pingping
Pagulung patumpang-tumpang
Ratna Rengganis ninggali
Warnaning lauk cai
Lalawak pating suruwuk
Sepat pating karocepat
Julung-julung ngajalingjing
Sisi balong balingbing, sisi balungbang
Panambih:
Harta pada nareangan
Harti pada narabahan
Harta harti sarwa guna
Pada bisa mere bukti
Bisa hasil sapaneja
Sok nyumponan cita-cita
Harta harti song mangpaat
Dapon diraksa taliti
———————-
Laras: Madenda
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 11 September 2004
Sumber:
[geocities.@]
[www.angeltowns3.@]
Parantos diedit 2 kali. Editan pamungkas dina 13.10.04 09:30 ku jamparing.
Wirangrong
Pupuh 16: Wirangrong
Barudak mangka ngalarti
Ulah rek kadalon-dalon
Enggon-enggon nungtut elmu
Mangka getol mangka tigin
Pibekeleun sarerea
Modal bakti ka nagara
Panambih:
He barudak mangka ngarti
Ulah rek kadalon-dalon
Nungtut elmu jeung pangarti
Masing rajin soson-soson
Pibekeleun hirup tandang
Modal bakti ka nagara
Lemah cai anu urang
Perlu dijaga dibela
Ladrang
Pupuh 17: Ladrang
Aya hiji rupa sato leutik
Engkang-engkang, engkang-engkang
Sok luluncatan di cai
Ari bangun arek sarupa jeung lancah
Panambih:
Coba teguh masing telik
Eta gambar sidik-sidik
Sato naon kitu wanda
Reujeung dimana ayana
————————-
Laras:
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 11 September 2004
Sumber:
[www.angeltowns3.@]
Laras: Salendro
Watek: silih asih silih pikanyaah atawa mepelingan.
1 Pada := 7 padalisan.
Pupuh 1: Asmarandana
Eling eling mangka eling ( 8 engang – vokal i / E-ling-e-ling-
mang-ka-e-ling (jumlah 8), ling panungtung vokalna i)
rumingkang di bumi alam( 8 – a )
darma wawayangan bae ( 8 – e )
raga taya pangawasa ( 8 – a )
lamun kasasar lampah ( 7 – a )
nafsu nu matak kaduhung ( 8 – u )
badan anu katempuhan ( 8 – a )
Panambih:
Eling-eling masing eling
Di dunya urang ngumbara
Laku lampah nu utama
Asih ka papada jalma
Ucap tekad reujeung lampah
Tingkah polah sing merenah
Runtut rukun sauyunan
Hirup jucung panggih jeung kamulyaan
——————-
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan
Titimangsa: 26 Agustus 2004
Sumber:
[geocities.@]
[www.angeltowns3.@]
Balakbak
Watek: pikaseurieun.
1 pada := 3 padalisan.
Pupuh 2: Balakbak
Aya warung sisi jalan rame pisan – Citameng(15-e)
Awewena luas luis geulis pisan – ngagoreng (15-e)
Lalakina lalakina los ka pipir nyoo monyet – nyanggereng (19-e).
Panambih:
Aya warung sisi jalan
Rame pisan ku nu jajan
Tihothat nu ngaladangan
Nu jarajan sukan-sukan
————————-
Laras: Madenda
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan
Titimangsa: 26 Agustus 2004
Dangdanggula
Pupuh 3: Dangdanggula
Mega beureum surupna geus burit
Ngalanglayung panas pipikiran
Cikur jangkung jahe koneng
Naha teu palay tepung
Sim abdi mah ngabeunying leutik
Ari ras cimataan
Gedong tengah laut
Ulah kapalang nya bela
Paripaos gunting pameulahan gambir
Kacipta salamina
Panambih:
Hiji basa, hiji bangsa
Basa bangsa, Indonesia
Hiji bangsa, hiji nusa
Nusa tunggal, Nusantara
Seler-seler, suku bangsa
Di wewengkon, mana-mana
Sakasuka, sakaduka
Wujud bangsa, Indonesia
——————————-
Laras: Pelog, Sorog
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan
Titimangsa: 26 Agustus 2004
Sumber:
[www.angeltowns3.@]
Durma
Pupuh 4: Durma:
Moal ngejat sanajan ukur satapak
Geus dipasti ku jangji
Mun tacan laksana
Numpes musuh sarakah
Heunteu niat seja balik
Najan palastra
Mati di medan jurit
Panambih:
Di mamana si penjajah
Pada amarah marudah
Manan kapok anggur gawok
Najan dituyuk diragut
Nagri sadayana
Umumna ngabela
Nyempad rosa, pulitik penjajah
Tapi nu ngajajah
Teu pasrah, teu sadrah
Terus meres, ngahina ngarinah
———————
Laras: Pelog
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan
Titimangsa: 27 Agustus 2004
Sumber:
[www.angeltowns3.@]
Parantos diedit 1 kali. Editan pamungkas dina 13.10.04 08:59 ku jamparing.
Gambuh
Watek: bingung, samar polah atawa tambuh laku.
1 Pada := 5 padalisan.
Pupuh 5: Gambuh
Ngahuleng banget bingung ( 7 – u )
henteu terang ka mana ngajugjug ( 10 – u )
turug turug harita teh enggeus burit ( 12 – i )
panon poe geus rek surup ( 8 – u )
keueung sieun aya meong ( 8 – o )
Ngahuleng banget bingung
Heunteu terang kamana nya indit
Turug-turug harita teh, enggeus burit
Panonpoe geus rek surup
Keueung sieun, aya meong
Panambih:
Hulang-huleng, hulang-huleng
Ngahuleng ngaraga meneng
Hate ratug, tutunggulan
Heunteu terang, kaler-kidul
Turug-turug, turug-turug
Harita teh, enggeus burit
Panonpoe geus rek surup
Keueung sieun aya meong
———————-
Laras: Pelog
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan
Titimangsa: 27 Agustus 2004
Sumber:
[geocities.@]
[www.angeltowns3.@]
Gurisa
Kaping: 18.07.2003 13:58
Watek: pangangguran, lulucon atawa tamba kesel.
1 Pada := 8 Padalisan.
Pupuh 6: Gurisa
Hayang teuing geura beurang ( 8 – a )
geus beurang rek ka Sumedang ( 8 – a )
nagih anu boga hutang (8 – a )
mun meunang rek meuli soang ( 8 – a )
tapi najan henteu meunang ( 8 – a )
teu rek buru buru mulang ( 8 – a )
rek tuluy guguru nembang ( 8 – a )
jeung diajar nabeuh gambang ( 8 – a)
Hayang teuing geura beurang
Geus beurang rek ka Sumedang
Nagih ka nu boga hutang
Mun meunang rek meuli soang
Tapi najan henteu meunang
Mo rek buru-buru mulang
Rek terus guguru nembang
Jeung diajar nabeuh gambang
Panambih:
Hayang teuing geura beurang
Geus beurang rek ka Sumedang
Nagih ka nu boga hutang
Mun meunang rek meuli soang
Tapi najan henteu meunang
Mo rek buru-buru mulang
Rek terus guguru nembang
Jeung diajar nabeuh gambang
———————-
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 3 September 2004
Sumber:
[geocities.@]
[www.angeltowns3.@]
Parantos diedit 1 kali. Editan pamungkas dina 13.10.04 09:03 ku jamparing.
Juru Demung
Pupuh 7: Jurudemung
Mungguh nu hirup di dunya
Ku kersaning anu agung
Geus pinasti panggih
Jeung dua rupa perkara
Senang paselang jeung bingung
Panambih:
Mungguh hirup di alam dunya
Ku kersaning anu agung
Geus pinasti bakal panggih
Suka bungah jeung kasedih
Dua rupa nu tumiba
Sakabeh jalma di dunya
Senang patumbu jeung bingung
Eta geus tangtu kasorang
—————————-
Laras: Pelog Liwu
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 3 September 2004
Kinanti
Laras: Pelog/Salendro
Watekna: miharep atawa prihatin.
1 Pada := 6 Padalisan
kembang ros ku matak lucu ( 8 – u )
nya alus rupa nya seungit ( 8 – i )
henteu aya papadana ( 8 – a )
ratuning kembang sajati ( 8 – i )
papaes di patamanan ( 8 – a )
seungit manis ngadalingding ( 8 – i )
Pupuh 8: Kinanti
Budak leutik bisa ngapung
Babaku ngapungna peuting
Nguriling kakalayangan
Neangan nu amis-amis
Sarupaning bungbuahan
Naon bae nu kapanggih
Panambih:
Ari beurang ngagarantung
Pinuh dina dahan kai
Disarada patembalan
Nu kitu naon ngaranna
————————
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.com)
Titimangsa: 3 September 2004
Lambang
Watek: banyol atawa pikaseurieun.
Unggal Pada diwangun ku opat Padalisan.
Pupuh 9: Lambang
Nawu kubang sisi tegal ( 8 – a )
nyair bogo meunang kadal ( 8 – a )
atuh teu payu dijual ( 8 – a )
rek didahar da teu halal ( 8 – a )
Panambih:
Nawu kubang sisi tegal
Nyiar bogo meunang kadal
Nawu kubang sisi tegal
Nyiar bogo meunang kadal
Atuh teu payu dijual
Rek didahar da teu halal
Nawu kubang sisi tegal
Nyiar bogo meunang kadal
Meunang kadal
Atuh teu payu dijual
Rek didahar da teu halal
Da teu halal
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.com)
Titimangsa: 4 September 2004
Magatru
Pupuh 10: Magatru
Majalaya, Ciparay, Banjaran, Bandung
Kopo reujeung Cisondari, Cicalengka, Ujung Berung
Rajamandala, Cimahi
Leles, Limbangan, Tarogong
Panambih:
Sukuna pakepit tilu
Panonna opat harerang
Leumpangna semu nu lesu
Ngalengkah teu bisa gancang
————————-
Laras: Madenda
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 4 September 2004
Maskumambang
Dikintun: koryati (202.51.230.139)
Kaping: 17.02.2004 09:52
Pupuh 11 : Maskumambang
Duh manusa mana kaniaya teuing
teu aya rasrasan
abong ka mahluk nu laip
nyiksa henteu jeung aturan
Hulu abdi karaosna langkung nyeri
tulang asa bejad
tanduk mah pon kitu deui
taya raoskeuneunnana
Na dikinten abdi mo ngarasa nyeri
pedah kabisan
tapi yaktosna mah abdi
ngan bakating kumawula
Oge margi anjeun rupina ka abdi
miwarang jeung maksa
buktina disina jurit
kalawan jeung dihatean
Pileuleuyan dunya pisah sareng abdi
moal bisa panjang
abdi ningal bumi langit
rek mulang ka kalanggengan
jst.
Mijil
Pupuh 12: Mijil
Mesat ngapung putra Sang Arimbi
Jeung mega geus awor
Beuki lila beuki luhur bae
Larak-lirik ninggali ka bumi
Milari sang rai
Pangeran Bimanyu
Panambih:
Aduh Gusti nu Kawasa
Jisim abdi ageung dosa
Pangna abdi gering nangtung
Reh ka sepuh wantun nundung
———————-
Laras: Pelog
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 10 September 2004
Sumber:
[www.angeltowns3.@]
Pangkur
Watek: nafsu, lumampah atawa sadia rek perang.
Unggal Pada diwangun kutujuh Padalisan.
———-
Pupuh 13: Pangkur
Seja nyaba ngalalana ( 8 – a )
ngitung lembur ngajajah milang kori ( 12 – i )
henteu puguh nu dijugjug ( 8 – u )
balik paman sadaya ( 7 – a )
nu ti mana tiluan semu rarusuh ( 12 – u )
Lurah Begal ngawalonan ( 8 – a )
“Aing ngaran Jayapati”( 8 – i )
Panambih:
Euleuh itu budak gembul
Awak gembru bayuhyuh gawena kedul
Ukur heuay jeung nundutan
Ka sakola unggal poe kabeurangan
He barudak tong nurutan
Ka nu gembul kokomoan
Bisi kedul jeung ogoan
Awal akhir katempuhan
————————-
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 11 September 2004
Sumber:
[geocities.@]
[www.angeltowns3.@]
Pucung
Watekna piwuruk, wawaran, atawa mepelingan.
Unggal Pada diwangun ku opat Padalisan.
———
Pupuh 14: Pucung
Estu untung nu bisa mupunjung indung ( 12 – u )
jeung nyenangkeun bapa ( 6 – a )
tanda yen bagjana gede ( 8 – e )
hitup mulus kaseundeuhan ku berekah ( 12 – a )
Lutung buntung luncat kana tunggul gintung
Monyet loreng leupas
luncat kana pager dengdek
Bajing kuning jaralang belang buntutna
Panambih:
Hayu batur urang diajar sing suhud
Ulah lalawora bisi engke henteu naek
Batur seuri urang sumegruk nalangsa
————————
Laras: Salendro
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 11 September 2004
Sumber:
[geocities.@]
[lssitb.f2o.org]
Parantos diedit 1 kali. Editan pamungkas dina 13.10.04 09:27 ku jamparing.
Sinom
Watekna gumbira.
Unggal Pada diwangun ku salapan Padalisan.
Contona :
Di wetan fajar balebat ( 8 – a )
panon poe arek bijil ( 8 – i )
sinarna ruhay burahay ( 8 – a )
kingkilaban beureum kuning ( 8 – i )
campur wungu saeutik ( 7 – i )
kaselapan semu biru ( 8 – u )
tanda Batara Surya ( 7 – a )
bade lumungsur ka bumi ( 8 – a )
murub mubyar langit sarwa hurung herang ( 12 – a )
Pupuh 15: Sinom
Warna-warna lauk empang
Aya nu sami jeung pingping
Pagulung patumpang-tumpang
Ratna Rengganis ninggali
Warnaning lauk cai
Lalawak pating suruwuk
Sepat pating karocepat
Julung-julung ngajalingjing
Sisi balong balingbing, sisi balungbang
Panambih:
Harta pada nareangan
Harti pada narabahan
Harta harti sarwa guna
Pada bisa mere bukti
Bisa hasil sapaneja
Sok nyumponan cita-cita
Harta harti song mangpaat
Dapon diraksa taliti
———————-
Laras: Madenda
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 11 September 2004
Sumber:
[geocities.@]
[www.angeltowns3.@]
Parantos diedit 2 kali. Editan pamungkas dina 13.10.04 09:30 ku jamparing.
Wirangrong
Pupuh 16: Wirangrong
Barudak mangka ngalarti
Ulah rek kadalon-dalon
Enggon-enggon nungtut elmu
Mangka getol mangka tigin
Pibekeleun sarerea
Modal bakti ka nagara
Panambih:
He barudak mangka ngarti
Ulah rek kadalon-dalon
Nungtut elmu jeung pangarti
Masing rajin soson-soson
Pibekeleun hirup tandang
Modal bakti ka nagara
Lemah cai anu urang
Perlu dijaga dibela
Ladrang
Pupuh 17: Ladrang
Aya hiji rupa sato leutik
Engkang-engkang, engkang-engkang
Sok luluncatan di cai
Ari bangun arek sarupa jeung lancah
Panambih:
Coba teguh masing telik
Eta gambar sidik-sidik
Sato naon kitu wanda
Reujeung dimana ayana
————————-
Laras:
Vokal: Seniman/wati RRI Bandung
Sumber: Dokumen RRI Bandung
Encryptor: Ki Hasan (khs579@yahoo.@#$%&)
Titimangsa: 11 September 2004
Sumber:
[www.angeltowns3.@]
Carita Banyol
Di hiji rohangan dokter kelamin, aya hiji lalaki ngora rek konsultasi ka eta dokter.
“Dok, kuring teh hayang dipariksa masalah ‘eta’ ku dokter, tapi era!” ceuk eta pasen kulamas-kelemes.
“Ke….ke…naha bet era? Apanan kuring mah dokter, siap ngabantu naon nu jadi keluhan anjeun!” ceuk eta dokter ngayakinkeun.
“Euuh, kumaha nya, dok! Kuring mah sieun dokter nyeungseurikeun!” si pasen tetep we era ngedalkeun.
“Seuri kunaon? Yeuh, anjeun kedah percaya ka kuring! Kuring oge keuna ku kodeu etik kadokteran, nu salah sahijina teu meunang nyecela atawa nyengseurikeun panyakit pasen. Ngartos? Sok atoh ayeuna mah naon nu bade ditembongkeun?” ceuk dokter nitah eta pasen ngaguarkeun naon nu jadi musabab si pasen datang ka manehna.
Teu lila, geus kitu si pasen langsung muka calanana. Manehna tuluy ningalikeun bobogaanana. Na atuh barang bobogaanana ditingalikeun, si dokter langsung nyikikik!
“Hii..hi…hi…hi…..! Hii..hi…hi…hi…..! Hapunten-hapunten kuring seuri kalepasan!” ceuk dokter bari tuluy nutupan bahamna. Terus manehna ngomong, “kutan kitu nu jadi masalah anjeun teh!”
Si dokter rek teu seuri kumaha da ningali ukuran bobogaan si pasen: sagede patlot 2B!
Pikiran si dokter mah, eta pasen pasti hayang dibadagan bobogaanana, siga nu biasa dilakukeun ku Ma Erot.
“Tah, ayeuna naon maksud anjeun ka dieu teh?” si dokter nanya ka eta pasen nu beungeutna beureum bangun kusabab tadi diseungseurikeun.
“Maksad abdi mah dok! Kieu abdi hoyong ngadamangkeun gagaduhan abdi!”
“Kunaon kitu?” si dokter panasaran.
“Ieu, gagaduhan teh tos saminggon bareuh!”
Langsung wae dina pikiran si dokter teh ngan kabayang: pentul korek!
sumber:http://www.galuhciamis.co.cc
“Dok, kuring teh hayang dipariksa masalah ‘eta’ ku dokter, tapi era!” ceuk eta pasen kulamas-kelemes.
“Ke….ke…naha bet era? Apanan kuring mah dokter, siap ngabantu naon nu jadi keluhan anjeun!” ceuk eta dokter ngayakinkeun.
“Euuh, kumaha nya, dok! Kuring mah sieun dokter nyeungseurikeun!” si pasen tetep we era ngedalkeun.
“Seuri kunaon? Yeuh, anjeun kedah percaya ka kuring! Kuring oge keuna ku kodeu etik kadokteran, nu salah sahijina teu meunang nyecela atawa nyengseurikeun panyakit pasen. Ngartos? Sok atoh ayeuna mah naon nu bade ditembongkeun?” ceuk dokter nitah eta pasen ngaguarkeun naon nu jadi musabab si pasen datang ka manehna.
Teu lila, geus kitu si pasen langsung muka calanana. Manehna tuluy ningalikeun bobogaanana. Na atuh barang bobogaanana ditingalikeun, si dokter langsung nyikikik!
“Hii..hi…hi…hi…..! Hii..hi…hi…hi…..! Hapunten-hapunten kuring seuri kalepasan!” ceuk dokter bari tuluy nutupan bahamna. Terus manehna ngomong, “kutan kitu nu jadi masalah anjeun teh!”
Si dokter rek teu seuri kumaha da ningali ukuran bobogaan si pasen: sagede patlot 2B!
Pikiran si dokter mah, eta pasen pasti hayang dibadagan bobogaanana, siga nu biasa dilakukeun ku Ma Erot.
“Tah, ayeuna naon maksud anjeun ka dieu teh?” si dokter nanya ka eta pasen nu beungeutna beureum bangun kusabab tadi diseungseurikeun.
“Maksad abdi mah dok! Kieu abdi hoyong ngadamangkeun gagaduhan abdi!”
“Kunaon kitu?” si dokter panasaran.
“Ieu, gagaduhan teh tos saminggon bareuh!”
Langsung wae dina pikiran si dokter teh ngan kabayang: pentul korek!
sumber:http://www.galuhciamis.co.cc
Langganan:
Postingan (Atom)

