Jumat, 30 April 2010

SEJARAH PECINAN BANDUNG

oleh: attayaya

Menurut catatan sejarah, bangsa Tionghoa pertama kali datang ke Indonesia melalui ekspedisi Laksamana Haji Muhammad Cheng Hoo (1405-1433). Ketika itu, Cheng Hoo berkeliling dunia untuk membuka jalur sutra dan keramik. Cheng Hoo pun pernah menginjakkan kaki di pulau Jawa. Sejak ekspedisi itu, berangsur-angsur bangsa Tionghoa berdatangan dan membangun pecinan di beberapa daerah di pulau Jawa.

Kuncen Bandung, Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Granesia, 1984), menuturkan bahwa sebagian warga Tionghoa di Pulau Jawa pindah ke Bandung ketika terjadi perang Diponegoro (1825). Setiba di Bandung, sebagian besar tinggal di kampung Suniaraja dan sekitar Jalan Pecinan lama. Mereka menetap dan mencari nafkah disana.

Tahun 1885 mereka mulai menyebar ke Jln. Kelenteng. Pecinan di Jln. Kelenteng di tandai dengan pembangunan Vihara Satya Budhi. Menurut keterangan pengurus Vihara Satya Budhi, pecinan di Bandung seperti rumah-rumah toko pada umumnya, tak ada asesoris khusus seperti pecinan di daerah lain di Indonesia. Warganya pun beragam, tak hanya keturunan Tionghoa.

Pecinan berkembang pesat disekitar Pasar Baru sejak 1905. Umumnya warga Tionghoa menjadi pedagang. Salah satunya, Tan Sioe How yang mendirikan kios jamu ”Babah Kuya” di Jln. Belakang Pasar, tahun 1910. Bisa dikatakan, toko Babah Kuya merupakan salah satu perintis toko di kawasan itu. Selain Babah Kuya, warga Tionghoa lain pun banyak yang mendirikan kios di wilayah ini.

Budayawan Tionghoa, Drs. Soeria Disastra, mengatakan bahwa pecinan memang ada, tapi tidak ada batasan. Maksudnya, hubungan warga Tionghoa dan Pribumi sekitar abad ke-19 dekat sekali. Akan tetapi, Belanda tidak senang melihat kedekatan itu. Belanda pun memisahkan Tionghoa dan Pribumi dari segi ekonomi. Warga Tionghoa dijadikan perantara perekonomian bangsa Eropa dan pribumi. Menjual rempah-rempah dari pribumi ke Belanda untuk di ekspor. Lama kelamaan kedekatan itu pun memudar.

Menurut Sie Tjoe Liong (75), generasi keempat pemilik kios ”Babah Kuya”, kawasan pecinan di Bandung terbentuk karena faktor politik. Warga pecinan tidak diizinkan berbaur dengan pribumi karna kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang memisahkan pemukiman orang asing dengan pribumi. Kebijakan itu tidak hanya untuk warga Tionghoa tetapi juga untuk Arab dan Eropa.

Selain di Pasar Baru, kawasan pecinan juga tumbuh di Suniaraja dan Citepus tahun 1914. setiap pecinan dipimpin oleh Wijkmeester. Wijkmeester untuk daerah Suniaraja adalah Thung Pek Koey, sedangkan untuk daerah citepus Tan Nyim Coy. Wijkmeester di pimpin oleh seorang Luitennant der Chineeschen. Di Bandung, Luitennant-nya adalah Tan Djoen Liong (H. Buning, ”Maleische Almanak”, 1914).

Para pemimpin Tionghoa itu diabadikan di beberapa tempat misalnya di sekitar jalan Chinees-Wijk Citepus, ada pula Gang Goan Ann di Andir dan Jap Lun.

Sie Tjoe Liong menjelaskan, ketika peristiwa Bandung Lautan Api (1946). Kios-kios di Pasar Baru dibakar tentara Belanda. Wilayah Bandung terpisah menjadi bagian utara dan selatan. Kedua wilayah dibatasi rel kereta api yang membujur dari Cimahi hingga Kiara Condong. Wilayah utara dikuasai Belanda, sedangkan selatan oleh pribumi dan warga asing.

Akibat peristiwa itu, warga Tionghoa mengungsi ke kawasan Tegalega, Kosambi, Sudirman, dan Cimindi. Dengan demikian, dari Pasar Baru, kawasan pecinan meluas ke daerah-daerah tersebut. Warga Tionghoa dan pribumi pun bersatu kembali.

Belanda menyebut kawasan ini Groote Post Weg. Pada masa pemerintahan Orde Lama (1945-1968), pemerintah membatasi bidang ekonomi dan politik. Akan tetapi, menurut Soeria Disastra, dari segi kebudayaan pemerintah membuka pintu lebar-lebar. Lain lagi dengan pemerintahan orde baru (1968-1998), warfa Tionghoa mengalami pembatasan di segala bidang, kecuali ekonomi. Lagi-lagi, jurang pemisah itu pun muncul lagi.

Akan tetapi, di Zaman reformasi (1998-2008), kehidupan sudah lebih baik. Kebebasan yang diberikan mencakup hampir di segala bidang. ”pengakuan Imlek sebagai libur nasional adalah hal yang sangat berarti bagi kami,” kata Soeria.

Saat ini, daerah Pecinan di Bandung semakin luas meliputi Jln. Pasar Baru, Jln. ABC, Jln. Banceuy, Jln. Gardu Jati, Jln. Cibadak dan Jln. Pecinan Bandung. Namun, Sie Tjoe Liong berpesan agar warga pribumi dan Tionghoa tetap akur.

”Sekarang mah ga ada pecinan teh. Sudah berbaur. Interaksi antara warga Tionghoa dan pribumi telah berlangsung lama. Kita adalah bangsa Indonesia,” kata dia.

Sumber:
KALAWARTA
Berita Komunitas Kota Baru Parahyangan
Edisi Februari 2010
http://www.attayaya.net

Rabu, 28 April 2010

Ensiklopedi Pemikiran Emha Ainun Nadjib


1. kenapa kita tak bersedia merasa sebagai anak yang sedang belajar, sehingga ketidakmampuan itu wajar dan tak perlu ditutup-tutupi. Kenapa kita cenderung menciptakan diri menjadi nabi-nabi kecil yang bersabda dengan gagah perkasa
2. Tak seorang pun mampu mengada tanpa karena
3. Yang kita kehendaki dari anak-anak kita terutama adalah kepatuhan dan ketertiban dalam ukuran-ukuran kita sendiri. Kita kurang memiliki tradisi empati untuk membayangkan dan sampai batas tertentu membiarkan anak-anak kita menjadi diri mereka sendiri.
4. Sastra sekuler tidak otomatis steril dari Tuhan dan ketuhanan, seperti halnya atheism hanyalah tahap atau batas pengetahuan ketuhanan tertentu, atau kita tidak bias menyatakan, kita hidup di bumi dan Tuhan nun di sana. Semua terletak dalam ruang lingkup Tuhan. Oleh karena itu tidak usah kaget apabila menjumpai sebuah karya sastra sekuler tiba-tiba terasa sedemikian mendalam kadar Religiusitasnya.
5. Kesadaran wahid adalah proses perjalanan menuju Tuhan atau menempuh metode di dunia ini untuk tiba kembali pada-Nya. Manusia menempuh karier, meraih status, nama baik, dan hiasan harta benda, yang seluruhnya itu diorientasikan kepada penemuan Tuhan. Karier, nama baik, harta benda adalah tarikat menuju Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri
6. Manusia mesti memutuskan sesuatu untuk menemukan dirinya kembali, memilih tempatnya berpijak, menentukan kedudukannya. Di tengah ilmu yang makin menumbuhkan ruh. Di tengah pengebirian agama, pendangkalan kebudayaan, ironi kenyataan yang palipurna, penindasan yang disamarkan, penjajahan dengan senyuman. Ini zaman darurat, apa yang bias kau perbuat? Mengubah masyarakat? Itu impian sekarat.
7. Kehidupan berhenti ketika seseorang memilih aman daripada gelisah dan resiko.
8. Proses apapun, apalagi perlawanan dan pembebasan, mestilah ditempuh dengan kerja keras terus-menerus, penguasaan atas segala yang diperlukan oleh proses itu, serta persediaan waktu yang tidak pendek.
9. Puisi bukan apa-apa. Ia hanya bikinan manusia. Sedang manusia bukan apa-apa, kecuali ia yang bekerja agar ia lebih dari sekedar bukan apa-apa. Apapun saja bukan apa-apa kecuali Tuhan.
10. Saudaraku, dimana saja aku adalah aku, sebagaimana di hutan pun engkau adalah engkau.
11. Di tengah seribu hal yang menympekkan, tak kurang jua yang meringankan.
12. Yang terkenal belum tentu bermutu, yang bermutu belum tentu dikenal.
13. Kita terseret untuk membenci orang kaya, atau mencintai kemiskinan, saking getolnya membela orang miskin. Jadi sama halnya dengan setiap orang memeras orang miskin, karena sangat getol dengan kekayaan. Artinya, apakah untuk menjadi kaya harus melalui memiskinkan orang dahulu?
14. Kambing jangan seenaknya menyimpulkan bahwa harkatnya lebih tinggi daripada ayam, karena makanannya rumput dan dedaunan sementara ayam makan debu dan ulat-ulat kotor. Sebab kebudayaan ayam memiliki perspektif nilai-nilainya sendiri, memiliki acuan estetika dan hokum kesehatannya sendiri, yang tidak bias dibandingkan dengan kerangka acuan kambing.
15. Persetubuhan itu baik, tapi jika dilakukan tidak pada tempat dan waktunya, ia menjadi pemerkosaan. Korupsi itu toh hanya mengambil, Cuma yang diambil bukan haknya.
16. Keburukan itu tidak ada. Keburukan adalah kebaikan yang tidak diletakan pada ruang dan waktu yang semestinya. Sama halnya dengan kebencian, sesungguhnya ia adalah gelar dari cinta yang disakiti.
17. Zaman ini adalah zaman yang paling merasa tahu segala sesuatu, tetapi dimana-mana terjadi kedunguan dan ketidaktahuan terhadap hakikat kehidupan disbanding peradaban-peradaban masa silam. Alangkah sakit jiwanya.
18. Zaman sekarang adalah zaman yang mengaku paling sehat dan memuncaki ilmu dan tekhnologi kesehatan, tetapi berderet-deret penyakit baru muncul. Alangkah sakit jiwanya.
19. Zaman sekarang adalah zaman dimana nilai-nilai, substansi, makna kata, hakikat realitas, dijungkirbalikan secara sengaja seperti menaruh bola mata dibalik ketiak. Alangkah sakit jiwanya.
20.Orang yang kehilangan, setidaknya akan ingat bahwa ia kehilangan. Tapi kalau terlalu lama ia merasa kehilangan sesuatu, akhirnya yang hilang bukan hanya sesuatu itu, tetapi juga rasa kehilangan itu sendiri.
21. Yang ada tinggi rendah itu hanya nilai. Kalau manusia ya sama saja.
22. Manusia apapun posisinya harus belajar bergaul dalam kesejajaran harkat, dalam keadilan dan keseimbangan nilai diantara mereka.
23. Baik orang penindas maupun orang yang tertindas layak kita cintai. Hanya saja, cara kita mencintai harus berbeda. Kaum tertindas kita cintai dengan santunan dan sumbangan perubahan, sedang kaum penindas kita cintai dengan cara menegur atau mendongkelnya.
24. Tidak ada barang yang hilang, paling-paling pindah tempat.
25. Kenapa pengetahuan kalian tidak membuat kalian mengerti?
26. Khilaflah pandangan yang mengatakan bahwa manusia berhak dan mampu menyutradarai dirinya sendiri secara total. Namun lebih khilaf lagi jika dikatakan bahwa manusia, rakyat, lahir ke dunia hanya sekedar untuk menjalani penyutradaraan.
27. Kita dilarang membiarkan kebodohan. Apalagi kebodohan yang sombong.
28. Betapa tersiksanya untuk tidak percaya kepada sesama manusia.
29. Biarlah ia menipu, biarlah ia puas bahwa saya seakan-akan percaya pada tangisnya. Kalau tidak salah, Tuhan sendiri tahu persis bahwa sangat banyak hamba-hamba-Nya menipu-Nya setiap hari. Mengingkari janji untuk patuh kepada-Nya. Tapi apakah dengan itu lantas Tuhan menghentikan terbitnya matahari gara-gara dia jengkel ditipu manusia?
30. Jangan sampai kita mengeksploitasi persahabatan atau kemanusiaan untuk hal-hal yang bersifat professional.

sumber:http://menjawabdenganhati.wordpress.com

Selasa, 27 April 2010

Sejarah Bahasa Sunda

Sejak kedatangannya pada abad ke-17 ke Hindia Belanda, orang Belanda sangat sedikit yang mengetahui jika Sunda memiliki Budaya sendiri. Paradigma semacam ini berlanjut hingga pada abad ke 19. Sebelumnya pada tahun 1811-1816, Raffles, Gubernur Inggris di Jawa mendorong untuk melakukan penelitian tentang sejarah dan kebudayaan lokal. Dalam buku History of Java, Raffles masih dibingungkan, apakah Sunda itu dialek atau bahasa yang mandiri. Ia pun menyatakan bahasa Sunda itu adalah sebagai varian dari bahasa Jawa, bahkan ada juga yang menyebut bahasa Sunda sebagai bahasa Jawa Gunung dibagian barat.

Pada masa selanjutnya para cendekiawan Belanda yang berstatus pejabat pemerintah, swasta dan para penginjil menemukan sunda sebagai etnis sendiri. Pengetahuan etnografi ini sangat dibutuhkan, paling tidak untuk mempermudah komunikasi antara Belanda dengan Pribumi. Peristiwa penemuan ini ditunjang pula oleh upaya pemerintah kolonial bekerjasama dengan para Sarjana Belanda, membagi Nusantara kedalam wilayah Budaya yang berbeda-beda, antara lain Jawa, Sunda, Madura – masing-masing dengan bahasa mereka sendiri.

Belanda tentunya memiliki tujuan, karena masing-masing wilayah memiliki potensi alam yang berbeda. Seperti daerah Priangan sangat penting dari segi ekonomi, karena sebagai penghasil kopi. Belanda mendorong para elite lokal untuk menjalankan roda administrasinya sendiri, serta mendorong untuk belajar pendidikan formal. Dari sini para Bumiputra menyadari, bahwa memang ada perbedaan bahasa dan budaya diantara mereka.

Pada tahun 1829 M, Andries de Wilde, seorang pengusaha perkebunan di Sukabumi melakukan studi etnografi tentang daerah Priangan. Ia berpendapat bahwa bahasa sunda merupakan bahasa tersendiri. Cuplikan pendapatnya, sebagai berikut :

* Bahasa yang dituturkan diwilayah ini adalah bahasa sunda. Bahasa ini berbeda dengan bahasa Jawa dan Melayu. Namun demikian, ada banyak kata-kata yang pelan-pelan masuk atau diambil dari kedua bahasa yang disebut belakangan. Aksara yang dipakai para ulama adalah Arab ; banyak pemimpin lokal juga menegenal bahasa itu ; jika tidak memakai aksara itu, penduduk pada umumnya memakai aksara Jawa.

Kemudian dalam revisi yang dilakukannya pada tahun 1830, ia mengumpulkan banyak kata-kata Sunda mengenai pertanian, adat istiadat, dan Islam. Hasil penelitiannya semakin meneguhkan bahwa Sunda adalah etnis tersendiri.

Bahasa memang lajim disebut pertanda bangsa – Basa Ciciren Bangsa (een volk). Pendapat ini dikemukakan pula pada tahun 1920-an oleh Memed Sastrahadiprawira, seorang sarjana sunda. Ia mengemukakan :

*“Basa teh anoe djadi loeloegoe, pangtetelana djeung pangdjembarna tina sagala tanda-tanda noe ngabedakeun bangsa pada bangsa. Lamoen sipatna roepa-roepa basa tea pada leungit, bedana bakat-bakatna kabangsaan oge moesna. Lamoen ras kabangsaanana sowoeng, basana eta bangsa tea oge lila-lila leungit”

Dalam perkembangan selanjutnya, dikalangan Sarjana Sunda yang dianggap cukup berpengaruh bukan hanya bahasa dan etnisitas, tapi juga budaya. Pandangan ini menyatakan bahwa : bahasa merupakan representasi, cerminan suatu kebudayaan ; dan menentukan serta mendukung etnisitas. Bahasa dianggap sebagai pengusung terpenting dari suatu Budaya.

Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa yang mandiri mulai pada tahun 1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama (Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus tersebut diterbitkan di Amsterdam, disusun oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur. Sedanhkan senarai kosa kata Sunda dikumpulkan oleh De Wilde. Kemudian Roorda membuat pernyataan :

Pertama-tama (kamus) ini bermanfaat, khususnya supaya bisa lebih kenal dekat dengan bahasa yang sampai sekarang pengetahuan kita mengenainya sangat sedikit dan tidak sempurna ; bahasa itu dituturkan di wilayah barat pulau Jawa, yang oleh penduduk setempat disebut Sunda atau Sundalanden, yang berbeda dari bahasa di wilayah timur pulau itu ; bahasa itu sangat bebeda dengan yang pantas disebut bahasa jawa dan juga melayu, yaitu bahasa yang digunakan orang-orang asing di kepulauan Hindia Timur.

Berdasarkan khasanah naskah Sunda yang berhasil di data Edi S. Ekadjati dkk (1988), dikemukakan, Pada abad ke 19 merupakan masa peralihan kehidupan naskah Sunda, yaitu dari masa transisi antara lain ditandai dengan lahirnya naskah-naskah berbahasa dan beraksara Jawa, berbahasa dan beraksara Arab, serta berbahasa Jawa dan beraksara Pegon yang dimuali pada abad ke-17 kemasa baru yang ditandai lahirnya naskah-naskah Sunda dengan menggunakan aksara cacarakan, Pegon, dan Latin yang dimulai pada pertengahan abad ke-19. Pada Masa itu telah ada pula penulis dan pengarang Sunda terkenal, seperti Raden Haji Muhamad Saleh dan Raden Haji Muhamad Musa. Tentunya Muhamad Musa terkenal dengan Karyanya “Panji Wulung”.(*)

sumber:http://uheababil.blogspot.com

MILIK IING

Milik Iing mirilik ti sisi ti gigir. Bi Icih ti Cikijing ngirim kicimpring, cingcirining milik Iing lir istri pinilih. Ditilik ti gigir kriting, diintip ti pipir.. bintit. Bisi Bi Icih isin, Iing nitip pipiti isi cicis. Ih, Bi Icih nyirintil lir ijid. "Iing, Bi Icih ngirim kicimpring bisi Iing ngicip-ngicip giribig di pipir Nini Imi. Bi Icih ijid ngintip pipiti isi cicis. Bi Icih ngirim lin bisnis kicimpring! Jig nyingkir! Si!"

Iing inggis digitik Bi Icih, tirilik nyingkir. Di pipir Nyi Iting, Iing nilik-nilik bitis. Jih, bitis Nyi Iting 'ning. Iing ngintip birit Nyi Iting ti pipir, nyidik-nyidik bisi imbit Nyi Iting mirip pipiti Bi Icih.

"Ngintip, Ing?" Nyi Iting mimiti inggis diintip.

Iing cicing, birit Iing tiis. Ting! Iing mikir ngicip-ngicip Nyi Iting.

"Nyingkir!" Biwir Nyi Iting kiriting.

"Nyi Iting, Iing inggis digitik Bi Icih. Iing ngiring cicing di Nyi Iting," Iing mimiti ciriwis.

Nyi Iting gigis mikir Bi Icih, sirintil nilik-nilik Iing. "Iing tiris?"

Iing cicing, inggis nyi Iting mikir-mikir nyisig piriwit. Iing inggis digitik.

"Bisi tiris, cicing di pipir!" Nyi Iting mimiti tiis.

Iing ngincig mipir-mipir sisi bilik. Ih, milik si Iing. Nyi Iting nyiwit birit Iing, Iing nyiwit pipi Nyi Iting.

"Idih, Iing ciriwis... hi..hi..hi..," Nyi Iting nyikikik, tirilik ngiring ngiciprit mipir-mipir sisi bilik. Iing mikir. Nyi Iting ngiring? Cingcirining Nyi Iting...tiris!

Prikitiw!

Copyright © 2010 - Tata Danamihardja
Hak Cipta ditangtayungan ku undang-undang. Salira diwenangkeun nyutat ieu tulisan - boh sapalih atanapi sagemblengna - kalawan sarat kedah nyebatkeun sumber sareng ngaran nu nulis. Mugia janten uninga.

WEUREU PEUTEUY

Ceuceu jeung Neuneu keur reureuh deukeut beus beureum. Beuheung Neuneu euleugeug neuteup peuteuy meuhpeuy jeung leubeut deukeut kleub keurseus teuleum.

"Euleuh-euleuh, deungeun teuteureuy Ceu," ceuk Neuneu teu euleum-euleum. Ceuceu ceuleumeut nyeueung peuteuy leubeut jeung beuneur deukeut beungkeut seureuh.

"Heueuh, Neu. Eunceup yeuh, meuleum peuteuy jeung beunteur keur nyeubeuhkeun beuteung. Ceuceu geus leuleus neureuy beunceuh geuneuk jeung keuyeup reuneuh teu eureun-eureun." Ceuceu meureudeuy.

Neuneu nyeuleukeuteuk, "Heu..heu..heu.. Ceuceu, ceuceu.. Neureuy beunceuh jeung keuyeup reuneuh? Geuleuh Ceu, jeung teu seubeuh. Leuheung peuyeum, teu geuleuh jeung nyeubeuhkeun beuteung."

"Neuneu!" Ceuceu ngeuleuweuh. Leungeun Ceuceu ngeukeuweuk beubeur Neuneu, peureup Ceuceu deukeut beungeut Neuneu. Beungeut Ceuceu euceuy.

"Beuteung beuteung Ceuceu, beunceuh jeung keuyeup leueuteun Ceuceu. Teu Neu, Ceuceu teu geuleuh," Ceuceu nyeuneu.

"Heureuy Ceu.." ceuk Neuneu keueung neuleu Ceuceu neugtreug. "Ceuceu eudeuk beuleum peuteuy?"

"Peuteuy? Eudeuk Neu. Meungpeung peuteuy keur meuweuh jeung beuneur. Neureuy beuleum peuteuy jeung leupeut, leuh eunceup," Ceuceu meureudeuy. Beungeut Ceuceu geus teu euceuy.

"Ceuceu teu ceuceub nyeueung Neuneu?" ceuk Neuneu keukeuh keueung.

"Teu Neu, Ceuceu geus teu ceuceub." Ceuceu neuteup Neuneu seukeut. Neuneu reueus Ceuceu geus teu peupeuleukeuk.

Ceuceu jeung Neuneu ngeureuyeuh neureuy beuleum peuteuy teu eureun-eureun. "Teureuy Neu, meungpeung seueur. Peupeujeuh," ceuk Ceuceu geugeut.

Neuneu nyeuleukeuteuk. Ceuceu nyeukeukeuk. Leuh, Neuneu jeung Ceuceu weureu peuteuy euy!


Copyright © 2010 - Tata Danamihardja
Hak Cipta ditangtayungan ku undang-undang. Salira diwenangkeun nyutat ieu tulisan - boh sapalih atanapi sagemblengna - kalawan sarat kedah nyebatkeun sumber sareng ngaran nu nulis. Mugia janten uninga.

Jumat, 23 April 2010

anaking.salapan de.smp talenta.2009.





Mengenang.Kebersamaan.Adalah.Hal.Yang.Indah.Kita Menangis.Tertawa.Bercanda.Semua.Menjadi.Cerita.Untuk.Suatu.
Masa.Kelak.Selamat.Berjuang.Mencapai.Cita.Cita.Kalian.Semua.
Jangan.Lupakan.Hari.Ini.haturnuhun.atas kerjasama kalian:abed.randy.chris.alvin.CT.vincent.alnand.jono.clifford.
gisell.priskilla.icha.CC.giovanni.tata.nia.beatrice.catherine.
caecil.nie.anna.asti.yustin.kenny.bene.evan.willian.darian.dan gerry (tdk ada d foto,ga tau knp waktu itu dia ga ikut)
punten pisan lamun nulis namina lepat.

Hasan Mustapa


Haji Hasan Mustapa atawa kawentarna Panghulu Haji Hasan Mustapa (Cikajang, 3 Juni 1852 atawa 14 Sya'ban 1268 H - Bandung, 13 Januari 1930 atawa 12 Sya'ban 1348), ulama sakaligus sastrawan Sunda ahir abad ka-19/awal abad ka-20.

Masarakat Sunda biasa nyebut Hasan Mustapa salaku Panghulu Haji Hasan Mustapa (salajengna dina ieu artikel disebut HM), sabab kalungguhanana di Bandung nyaéta salaku 'Panghulu Besar' (Hoofd Panghoeloe). Ngaran Hasan Mustapa téh paméré rama jeung akina; 'Hasan' ti bapana, sedengkeun 'Mustapa' ti akina. Ngaran bapana nyaéta Mas Sastramanggala (Haji Usman), camat kontrakan entéh Cikajang, Garut, turunan Bupati Parakanmuncang, Tumenggung Wiratanubaya. Ibuna, Nyi Mas Salpah (Éméh), téh putra Mas Kartapraja, sarua camat kontrakan entéh Cikajang, turunan Dalem Sunan Pagerjaya di Suci, Garut. Mun nilik pancakakina mah, boh ti pihak indung atawa ti ramana, HHM téh turunan priyayi. Malah mah, numutkeun silsilah bupati Sukapura, HHM téh jéntré tedak ménak, turunan bupati Sukapura.

Kahirupan ménak Sukapura nu dalit jeung kaislaman (utamana jaman Subangmanggala putra Kangjeng Dalem Anggadipa nu diasuh ku Séh Abdul Muhyi), sigana mah mangaruhan kana diri HHM. Komo kolotna hayangeun pisan sangkan HM jadi ulama, nepi ka cenah ditirakatan puasa senén-kemis salila tilu taun. Dina umur tujuh taun, HM mimiti ancrub kana kahirupan pasantrén nalika dititipkeun ka Kiyai Hasan Basri ti Kiarakonéng, ahli Qiro’at, nu boga pamadegan yén pangajaran maca Qur’an téh mangrupakeun dasar atikan agama. Ti anjeunna, HM bisa maca Qur’an kalawan hadé.

Dina umur 8 taun, HM pernah diasupkeun ka Sakola Kabupatén ku Holle, tapi teu disatujuan ku bapana maké alesan rék dibawa ka Mekah. Tadina mah Holle keukeuh hayang HM sarua sakola jeung budak priyayi lianna, tapi antukna mah éléh da bapana keukeuh. Di Mekah anjeunna kungsi guguru ka Séh Mukri. Samulangna ka lemah cai, HM neruskeun masantrén ka Kiyai Hasan Basri, nepi ka ngolotok, hafid Qur'an. Ti dinya, HM neruskeun guguru dasar-dasar nahwu-sorop ka Rd. H. Yahya, pangsiunan panghulu Garut, teras ka Kiyai Abdul Hasan di Tanjungsari, Sumedang pikeun nyuprih élmu sorop, nahwu, jeung fiqh. Ti Sumedang, anjeunna balik deui ka Garut pikeun guguru ka Kiyai Muhammad jeung Kiyai Muhammad Ijrai. Lian ti éta, sigana mah HM ogé kungsi guguru ka Kiyai Abdul Kahar (Surabaya) jeung Kiayi Halil (Madura), ogé sababaraha kiyai asal Nusantara di Mekah, kayaning Séh Nawawi Al-Bantani, Abdullah Al-Zawawi, Hasbullah, Séh Abubakar Al-Satha.

Dina buku Aji Wiwitan, HM nyebutkeun yén anjeunna geus neuleuman genep welas rupa élmu, di antarana ushul, tasawuf, jeung tauhid. Ogé disebutkeun yén anjeunna geus neuleuman élmuna di Mekah, di antarana ka Séh Muhammad, Séh Abdulhamid, Séh Ali Rahbani, Séh Umar Sani, Séh Mustomal Apipi, Sayid Bakir, jeung Sayid Abdul Janawi. Tina kasang tukang atikanana, bisa dijinekkeun yén HHM digedékeun di lingkungan pasantrén, sarta disawawakeun di Mekah. Di Mekah téh anjeunna salila dalapan taun, sarta mulang nalika umur 30 (taun 1882). Salila di Mekah, anjeunna wawanohan jeung Snouck Hurgronje. Nalika mulang ka Garut, ramana téh geus pupus. Ti samulangna ti Mekah, anjeunna harita geus katelah kiyai/ajengan (ulama). Kusabab diajak Hurgronje, HHM lajeng ngumbara ka sababaraha tempat, nepi ka kungsi jadi panghulu di Acéh, saméméh mulang deui ka Bandung kalawan kalungguhan panghulu besar di Bandung nepi ka pangsiunna.

Lian ti kawentar ku kalungguhanana salaku Panghulu Besar, HHM téh pinter sarta luhung élmuna, boh ngeunaan agama atawa kabudayaan (hususna Sunda). Anjeunna ogé kawentar salaku pangarang nu karyana loba pisan. Ku sabab kitu, HHM téh kawentarna lain ukur di lingkungan pamaréntah, tapi ogé di masarakat jeung budayawan. Anjeunna dianggap salaku bujangga Sunda nu nepi ka kiwari can aya tandinganana. Sababaraha dangdingna dipikawanoh pisan ku masarakat, kitu ogé banyol-banyolna. Pamadegan hirupna ogé, pikeun nu resep mah, sok baé diteuleuman; sigana mah dumasar kana buku-buku nu kungsi sumebar, kayaning Balé Bandung jeung Syéh Nurjaman.

Loba nu nyangka yén HHM mimiti ngarang sanggeus balik ti Acéh, padahal Wangsaatmaja nyebutkeun yén HHM mah basa keur di Mekah gé geus kungsi nulis buku leutik dina basa Arab nu judulna Fathul Muin, medal di Mesir. Kern ogé nyebutkeun yén basa keur di Mekah téh HHM kungsi nulis buku-buku kaagamaan jeung puisi Arab nu medal di Kairo. Dumasar kana karya-karyana anu bisa kakumpulkeun, anjeunna leuwih getol nulis sanggeus jadi Panghulu Besar Bandung, sanggeus pangsiun. Malah ceuk Wangsaatmaja mah, 20 poé saméméh pupus gé HHM masih miwarang Wangsaatmaja nuliskeun pamikiranana dina buku poéanana. Karya munggaran HHM nu kanyahoan téh titimangsana taun 1899, nyaéta naskah nu judulna Aji Wiwitan Gelaran, buku jilid ka-3, sedengkeun nu panungtung judulna Aji Wiwitan Aji Saka II, buku jilid ka-14, nu numutkeun Wangsaatmaja mangrupakeun kumpulan kasauran HHM saméméh pupus. Dina mangsa 31 taun (1899 nepi ka 1930), HHM ngahasilkeun puluhan karya ngeunaan pamikiran, rarasaan, sarta pamendak anjeunna ngeunaan agama, tasawuf, filsafat, adat kabiasaan urang Sunda, jeung kajadian-kajadian nu kaalaman ku anjeunna. Nu kacatet sarta bisa kakumpulkeun aya 49 buku. Ti sakabéh karya-karyana, nu matak hélok mah dangdingna nu jumlahna kira 10000 bait.

Salaku pangarang, gaya dangding HHM loba nu niron, utamana ku pangarang Sunda sanggeus perang. Sedengkeun karyana ngeunaan adat jeung kabudayaan Sunda, loba ditalungtik ku oriéntalis Walanda, malah ku Kern kungsi ditarjamahkeun kana basa Walanda. Salaku ulama nu sok nulis ngeunaan agama jeung tasawuf, HHM teu ukur dipikawanoh ku maasrakat Sunda, tapi ogé ku ulama jeung ahli tarékat Jawa, Madura, malah nepi ka Irak, Mesir, jeung Kualalumpur. Ku kituna, HHM diaku pisan jasana ku Pamaréntah, sahingga taun 1977 dileler Piagam Hadiah Seni jeung piagam panghargaan ti Pamaréntah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat taun 1965.

Sanggeus pangsiun, HHM kadang sok medar agama jeung tasawuf dina pasamoan-pasamoan informal, kadang di bumina, kadang di tempat séjén, di imah jalma nu hayang ngadéngékeun pamikiran-pamikiran anjeunna. Pasamoan ieu ku HHM sok disebut “ngawarung bandung”. Dina pasamoan éta, HHM teu kungsi ngarasa jeung teu kersa ngaguruan. Kitu ogé nu ngariung dina éta pasamoan, tara ieuh ngaku salaku murid HHM, sabab guguru mah cenah ngabalukarkeun pribadi jalma jadi teu mekar. HHM miharep sangkan unggal jalma bisa bébas neuleuman sarta ngedalkeun sagala pamanggihna, luyu jeung kamampuhna séwang-séwangan. Kusabab kitu, pedaran HHM pikeun jalma-jalma nu sok ngawarung bandung mah katampana téh sok béda-béda tapsirna. Hal ieu katiténan di antara para jamaahna, misalna antara Ajengan Bangkonol jeung Kiyai Kurdi ti Singaparna. Kasebutkeun yén sanggeus ngalenyepan ajaran agama jeung tasawuf ti HHM, Ajengan Bangkonol geuwat ngabubarkeun pasantrénna sarta nyoéhkeun bedug nu aya di masjidna, alatan ngarasa dosa geus ngajarkeun paham agama nu salah. Sedengkeun Kiyai Kurdi, sanggeus ngalenyepan pedaran nu sarua, pasantrénna kalah digedéan sahingga santrina leuwih loba.

Teu kanyahoan aliran tarékat naon anu diagem sarta diajarkeun ku anjeunna. Aya nu nyebutkeun yén anjeunna ngawasa sakabéh alirann tarékat, tapi teu milih salah sahiji ti antarana. Aya ogé nu nyebutkeun yén anjeunna ngagem aliran Satariah. Nu écés mah, karya-karya HHM mindeng nyabit-nyabit yén anjeunna resep ka al-Ghazali, misalna dina pustaka Aji Wiwitan Istilah, buku jilid ka-1 jeung Aji Wiwitan Aji saka, buku jilid ka-14.

Sacara umum, karya-karya HHM mangrupakeun kumpulan nu pajeulit ngeunaan naon-naon anu kalenyepan ku anjeunna, adu manis antara Islam, tasawuf, kabudayaan Sunda, otobiografi, jeung kajadian-kajadian nu kaalaman.

sumber:wikipedia.org